Sebagai seorang ibu dan istri tentu saja saya mendapatkan tugas dari suami sebagai manajer keuangan keluarga, dengan harapan keuangan keluarga kami bisa baik dan sesuai dengan kebutuhan keluarga kami. Masalah keuangan keluarga ini bagi saya bukan masalah yang mudah, setidaknya saya harus pintar mengaturnya dengan baik sesuai keuangan yang masuk dan keluar, sehingga setiap bulannya keuangan kami bisa berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan atau ketakutan-ketakutan yang muncul. Karena jika keuangan keluarga buruk, pasti akan berpengaruh kepada kestabilan kehidupan keluarga.

Salah satu hal yang bisa membantu mengatur keuangan keluarga adalah dengan financial planning. Dulu rasanya saya tidak terfikirkan yang namanya financial planning, tetapi setelah berumah tangga tentu saja ini menjadi faktor yang sangat penting. Dengan perencanaan keuangan yang baik akan sangat membantu saya dalam mengontrol keuangan keluarga kami. Awalnya saya kesulitan menerapkan perencanaan keuangan keluarga kami, tetapi saya harus mencoba bijak dengan mengambil keputusan bahwa keuangan kelaurga kami harus direncanakan dengan sebaik-baiknya sesuai post-post keuangan yang tersedia.

Minggu lalu saya datang ke acara Visa Financial Literacy Series yang diadakan oleh Visa dan IbuBerbagiBijak bersama The Urban Mama dan Kumpulan Emak-Emak Blogger yang mengundang Mbak Prita Ghozi sebagai Financial Educator untuk menjelaskan lebih dalam lagi tentang Financial Check Up.

 

wpid-wp-1501739134796..jpg

wpid-wp-1501739160044..jpg

Banyak perempuan memiliki beberapa masalah keuangan yang biasanya disebabkan oleh bad habit, hutang, gaya hidup dan juga inflasi harga-harga. Untuk mendapatkan kondisi keuangan yang ideal dan terkendali, maka ada beberapa langkah yang harus dilakukan yaitu: Financial Chek up, Membentuk Dana Darurat, Mengatur Utang, Membuat Anggaran Belanja dan Merencanakan Keuangan.

Nah sebelumnya mendapatkan kondisi ideal, kita harus tahu dan sadar terlebih dahulu, apakah keuangan kita sudah sehat atau belum? Apa maksudnya keuangan sehat dan tidak sehat? Bagaimana kita tahu apakah keuangan kita sehat atau tidak? Dengan bantuang financial check up kita akan mengetahui tergolong dalam kategori apakah keuangan kita.

wpid-wp-1501739391757..jpg

Ada beberapa penentu keuangan kita sehat atau tidak, yaitu:

  • Keuangan Tidak Sehat    : Suatu kondisi keuangan dimana pengeluaran lebih besar daripada penghasilan, memiliki hutang kartu kredit dan tidak memiliki aset.
  • Keuangan Sehat                : Suatu kondisi keuangan dimana pengeluaran sama besarnya dengan penghasilan, investasi minimal, membayar tagihan kartu kredit walaupun terlambat.
  • Keuangan Mandiri           : Suatu kondisi keuangan dimana penghasilan lebih besar daripada pengeluaran, tidak punya hutang kartu kredit, Investasi maksimal.
  • Keuangan Sejahtera        : Suatu kondisi dimana penghasilan lebih besar daripada pengeluaran, memiliki penghasilan pasif dari aset, tidak punya hutang kartu kredit serta kemampuan berderma.

Tentu saja secara ideal saya ingin kondisi keuangan saya masuk ke dalam kategori sejahtera ya, dan semoga bisa masuk ke kategori tersebut walaupun saaat ini belum mencapai kesana. Untuk mencapai kondisi keuangan yang ideal, kita juga harus mengetahui 3 hal dalam  financial chek up yaitu:

Tabel Kekayaan Bersih, Yaitu Tabel Aset dan Kewajiban.

  • Aset :
    • Aset Kas :
      • Tabungan dan Deposito
      • Reksadana Pasar Utang
    • Aset Investasi :
      • ORI/Sukuk Ritel
      • Logam Mulia
      • Reksadana Pendapatan Tetap/Campuran/Saham
      • Unit Link
    • Aset Konsumtif
      • Rumah/Apartemen dietmpati
      • Kendaraan
  • Kewajiban :
    1. Pinjaman jangka pendek : utang kartu kredit, utang pinjaman dana tunai
    2. Pinjaman jangka panjang : Kredit perumahan, kredit lainnya.

Sebagai seorang ibu tentunya kita harus mengetahui aset-aset yang kita miliki serta kewajiban yang harus kita bayarkan setiap bulannya, sehingga dapat menghasilkan total kekayaan kita dengan menghitung dari total aset dikurangi total kewajiban.

Tabel Arus kas

yaitu mencatat pemasukan dan pengeluaran. Dapat dibantu dengan data-data seperti bon belanja, mutasi rekening dan lainnya. Nah dengan pencatatan arus kas ini diharapkan keuangan kita bisa tercatat dengan baik sehingga pengeluaran dan pemasukan bisa seimbang. Biasanya ibu-ibu sering menyimpan bon-bon belanjaan untuk membantu mencatat pengeluaran. Untuk mendapatkan pengaturan pengeluaran yang baik sebaiknya dilakukan per post pengeluaran masing-masing. Berikut jenis-jenis pos pengeluaran, yaitu:

  • Wajib dan Tetap                     : Berupa pembayaran cicilan pinjaman, ung sekolah, Gaji ART, supir dan premi asuransi.
  • Wajib dan fluktuatif            : Berupa pembayaran listrik, telepon, biaya makan, transportasi, dan tabungan serta investasi.
  • Tidak wajib dan tetap          : Berupa pembayaran  internet, TV kabel, les anak dan pribadi, majalah koran dan arisan.
  • Tidak wajib dan fluktuatif      : Berupa pembayaran  hiburan, hadiah, kafe hingga liburan.

Rasio-rasio keuangan

  • Rasio dana darurat : Menggambarkan berapa besar harta lancar yang tersedia untuk membayar biaya hidup sesuai standar hidup yang diinginkan, jika terjadi penurun penghasilan.
  • Rasio menabung : Menggambarkan porsi tabungan/investasi anda dibandingkan dengan penghasilan anda.
  • Rasio berutang : Indikator yang menunjukkan berapa besar utang anda dibandingkan total penghasilan. Menggambarkan apakah anda setiap bulan menerima gaji hanya untuk membayar utang?.

dari rasion diatas, kita bisa melihat lagi apa saja manfaat yang dapat kita ambil, seperti apa manfaat yang kita dapat jika kita memiliki dana darurat? yaitu kita memiliki dana darurat yang bisa dipakai jika tiba-tiba kita membutuhkan biaya dokter, biaya obat, biaya rumahs akit yang tidak dapat tertunda. Musibah bencana alam, kemalingan atau kematian. Terjadinya PHK secara mendadak atau kerusakan-kerusakan peraltan rumah tangga yang siginifkan seperti AC, KUlkas, dll. Nah untung menghitung berapa dana darurat yang harus kita sisihkan dari pendapatan yaitu minimal 3x pengeluaran rutin bulanan, dibuat terpisah dan tambahan untuk kondisi spesial.

Hutang

Biasanya setiap keluarga memiliki hutang, jarang sekali yang tidak memiliki hutang. Saya termasuk keluarga yang memiliki hutang. Tidak ada yang salah dengan hutang, tinggal bagaimana cara kita mengatur hutang dan melihat manfaat yang ada. Hutang bisa dikatakan produktif jika memiliki Nilai manfaat yang harus lebih panjang dari nilai pembayaran cicilan. Kemudian hutang yang mendapatkan penghasilan, dimaksudkan dengan bantuan pinjaman makan memiliki aset yang berpenghasilan. Dan juga berdasar pada suku bunga pinjaman dengan perbandingan suku bunga efektif, bukan tertera atau flat. Selain itu semua tentunya kita juga harus bijak dengan menggunakan kartu kredit. Kartu kredit sendiri berfungsi sebagai pengganti uang tunai, bukan tambahan penghasilan sehingga pembayaran tetap harus dilakukan. Untuk kasus kartu kredit, terkadang saya bersyukur tidak punya kartu kredit karena terbebas dari rasa ingin berhutang.

wpid-wp-1501739391683..jpg

Nah lalu bagaimana cara kita memulai financial planning sendiri? kebetulan kemarin kita diberi work sheet yang ahrus dikerjakan mengenai cek kesehatan keuangan kita dengan melhat prosentase pemasukan dan pengeluaran. Hal yang terpenting kita dapat memprosentasekan pengeluaran keuangan kita sesuai dengan pos-posnya yaitu pos untuk pengeluaran sedekah, cicilan hutang, dana darurat, biaya hidup, gaya hidup dan investasi. Nah menurut mbak Prita, rasio yang ideal untuk pengeluaran yaitu:

  • 5%     sedekah
  • 30%  cicilan Hutang
  • 10%  dana darurat
  • 30%  biaya hidup
  • 10%  gaya hidup
  • 15%  investasi

Untuk prosentase pengeluaran keuangan keluarga saya, Alhamdulillah masih balance dengan yang diberikan oleh mbak Prita dan semoga bisa sesuai terus ya. Nah bagaimana dengan perencanan keuangan kalian? apakah sudah termasuk keuangan yang ideal?    wpid-wp-1501739180972..jpg

 

 

Comments (1)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked (*).

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  • Siapa hayoh?

    ga suka kekerasan, sebel bunyi klakson, suka renang, ga suka makan babat, suka banget pizza dan buah duku