Saat ini yang ada di benak gw adalah: “Kapan masa terrible two ini lewat? bisa di skip ga ya nih masa?“.  Kenapa gw bisa smape mikir seperti itu? karna pada kenyataannya gw  agak puyeng menghadapi kelakuan Mika di masa-masa seperti ini.

Semenjak dia berumur 2 tahun yang belum ada sebulanan ini, muncul lah si terrible two ini hampir  setiap hari.  Gw dan age men coba berbagai cara untuk bisa dengan mudah melewati ini semua (halah gaya bener gw) yang ternyata hasilnya jauh dari pengharapan gw dan membuat gw musti terus belajar banyak menghadapi masa-masa ini.  Gw dan age sudah amat sadar bahwa kami harus menghadapi masa-masa dimana Mika seperti ini, bahkan gw mencoba mencari tau dengan membaca banyak artikel tentang si terrible two ini untuk menguatkan hati gw bahwa ini emang masanya bukan karna anak gw yg terlalu over kelakuannya.  Dari artikel-artikel yang gw baca mengatakan bahwa hal tersebut wajar terjadi dan dialami oleh anak-anak berumur 2-4 tahun, tetapi walaupun wajar tetap anak harus diarahkan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Hal-hal ini dimulai dari sikap Mika yang tidak bisa diberitahu apalagi dilarang!,  semua yang dia inginkan harus terpenuhi secara langsung dan cepat, telat sedikit atau bahkan kita tidak memperbolehkan apa yang dia mau, langsung secepat kilat dia marah dan meraung, menangis bahkan teriak. Oh rasanya kepala gw mau pecah saat itu, beruntung gw ga sendirian menghadapi semua kelakuan-kelakuan yang mika buat, ada age yang terkadang bisa membuat gw jadi lebih sabar menghadapi ini semua. Gw pun sadar, tidak semua keinginan gw harus terpenuhi oleh Mika karena dia juga belum mengerti banyak apa yang gw maksud, tetapi disini gw akan mencoba untuk tidak menuntut mika banyak, mencoba untuk tetap melihat semua kemampuan yang dia punya tanpa harus memaksa semua keinginan gw. Mencoba juga untuk mengajarkan dia apa yang baik dia lakukan dan tidak baik dia lakukan walaupun harus dengan cara yang tidak menyenangkan untuk gw ataupun dia tetapi hasilnya membuahkan hasil yang baik dan membuat Mika mengerti kesalahannya.

Seperti tadi malam, ketika gw memberikan dia obat dan vitamin karena masih dalam pemulihan dari sakitnya, dan Mika ini amat sangat senang dengan namanya obat, ga sakit aja dia pasti minta obat yang akhirnya gw alihkan memberikan dia madu sebagai pengganti obat yang dia minta. Nah tadi malam ketika selesai gw memberikan obat, Mika masih ingin terus meminum obatnya dan tidak ingin obat tersebut disimpan. Gw mencoba untuk menjelaskan ke Mika dengan sangat halus tanpa intonasi marah ataupun kesal.

Mika : bat….bat…bu bat (bat=obat)

gw : Sudah ya nak, besok pagi kita minum obat lagi, tadi kan sudah banyak minum obatnya

Mika : bat….bat…bat

gw : besok lagi ya nak, sekarang ibu simpan dulu

Mika    : (Mulai nangis sambil teriak bat bat)

Okay, gw coba menenangkan mika semampu gw tetapi yang ada dia malah meraung sejadi-jadinya tanpa perduli sama apa yang gw bilang dan gw lakukan. Coba diambil alih sama age untuk menenangkan Mika tetapi ga berhasil. Akhirnya dicoba ditaro di pojok nakal yang hasilnya pun ga berhasil, masih saja dia meraung-raung sambil nangis. Akhirnya gw sama age coba keluar ke teras rumah dan mika di dalam rumah, pintu rumah gw buka, jadi dia bisa liat gw dan age dari dalem dan gw bisa ngeliat mika dari teras. Selama gw dan age di teras rumah, mika di dalem masih menangis dan mencoba tetap mempertahankan ego nya untuk nangis sekenceng-kencengnya. Sekali lagi gw bukan tega sama anak tetapi gw mencoba untuk memberi pengertian kepada Mika bahwa dengan dia menangis atau meraung-raung seperti itu tidak akan membuat dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Akhirnya Mika menyerah, sambil menangis dia menghampiri kami ke teras rumah, ketika gw pangku dan peluk, pelan-pelan gw kasih tau bahwa hal tersebut tidak baik dan tidak ada gunanya untuk menangis mendapatkan apa yang dia inginkan. Terlalu lelah menangis, akhirnya Mika tidur dengan manis.

Gw dan age hanya bisa mencoba melakukan berbagai cara agar kami bisa menghadapi hal-hal seperti ini yang nantinya akan semakin banyak lagi. Harapan gw semoga kami bisa menjadi orangtua yang sabar dan tidak bermain kasar dalam menghadapi ini. Banyak orangtua yang tidak bisa mengendalikan emosinya ketika anak-anak berada di masa-masa seperti ini, dan kami tidak ingin seperti itu!. Anak adalah titipan, jadi kita harus menjaga titipan ini sebaik mungkin. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked (*).

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  • Siapa hayoh?

    ga suka kekerasan, sebel bunyi klakson, suka renang, ga suka makan babat, suka banget pizza dan buah duku