Setelah Menjadi Orangtua

Setelah menjadi orangtua, hidup tuh bisa dikatakan berubah. Waktu belum punya anak bahkan masih single, ya hidup ga terlalu banyak berubah kalo kata gw sih, paling perubahannya kita sekolah, terus kuliah, kemudian kerja, kehidupan sehari-hari pun ya gitu-gitu aja, tantanganya beda lah dibandingkan ketika menikah kemudian punya anak. Kalo gw dan age sih ngerasain itu ya, beda dan berubah ketika kita sudah jadi orangtua. Contohnya nih, age itu orang yang sangat santai, dia jarang banget panik dan jarang banget marah, bahkan tingkat stress dia tuh bener-bener dibawah deh, banyaknya malasah yang dia punya, dia bisa santai ngadepinnya, tapii itu dulu waktu dia belum punya anak.

Saya dan Dia

Saya=saya, dia= suami saya.

Saya dan dia, ehhmmm kesannya gimana gitu ya bacanya huehe. Saya adalah saya dan dia adalah dia, 2 pribadi yang jelas saja sangat-sangat berbeda dari lahir sampe sekarang walaupun kami pacaran lama, menikah dan punya anak tetap saja kami berbeda. Dari fisik ya jelas lah ya beda, saya wanita dan dia pria, saya cantik dan dia ganteng *yang ini minta ditimpuk massa karna narsis*, saya punya rambut dia botak hihihi *piss bapak* dan hal-hal lain selain fisik yang pasti berbeda termasuk sikap, sifat, watak, pemikiran dan lain sebagainya.

Tetapi satu hal yang gw yakini adalah Tuhan itu ajaib buat gw, kenapa gitu? karena dia yang telah memberikan umatnya pasangan masing-masing walaupun setiap pasangan itu memiliki perbedaan. Sadar ga sih kita tuh ga bisa bilang kalo si A adalah jodoh kita karena si A perilakunya, sifatnya sama dengan kita, pas kita bilang si A adalah jodoh kita ternyata putus atau malah cerai. Sadar juga ga sih kalo kebanyakan orang menikah itu bener-bener dari 2 pribadi yang sangat jauh berbeda walaupun nantinya ada beberapa hal yang akan menjadi sama malah bisa saja tukeran sifat, nah ajaib kan Tuhan? Dia yang udah ngasih garis ke umatnya si A sama si Z, si D sama si N. Ya emang betul kata orang-orang, jodoh ditangan Tuhan, kita tinggal bersama-sama jodoh kita itu ngejalanin tugas yang Tuhan kasih, hehehe udah kayak ustadzah aja gw, ya gitulah kira-kira, hehe. Sebenernya gw penasaran aja, bener ga sih kalian ngerasain hal yang sama bahwa kita dan suami kita tuh beda?, cuman karena cinta jadinya sok sama hahaha. Nah kalo dari kita, saya dan dia itu jauh banget bedanya terutama sifat, watak dan sikap, bisa dibilang beda 180 derajat (thanks taya yg udah ralat gw td nulis % bukan derajat) Tetapi dengan perbedaan itu, kami berusaha mencoba menyikapi dengan baik, berjalan bersama-sama untuk bisa menjadi sama, tidak lagi berbeda walaupun sampai sekarang masih aja beda *ya iyalah emangnya gampang?*. Dan kalo sudah seperti ini, yang terasa malah terbalik, tiba-tiba dia seperti saya dana saya seperti dia, hahaha entah ini hukum karma atau proses menjadi suatu manusia yang sama. Walaupun seperti itu pasti tetap saja tidak akan menjadi pribadi yang sama 100%, masih saja berbeda karena merubah seseorang seperti apa yang kita inginkan itu ga gampang, susah banget lah. Coba aja mikir, kita kan dari lahir sampe besar sudah tercipta seperti kita sekarang, nah mau dirubah menjadi pribadi yang lain dalam waktu singkat, mana bisa? bisa saja tetapi pasti memakan waktu yang banyak dan usaha yang keras. Nah karena ini gw berfikir Tuhan emang sengaja ngasih kita pasangan yang beda sama kita supaya kita punya rasa empati, kasih sayang, menghargai dan keinginan untuk bersama-sama menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Mungkin kalo semua orang sama, hidup pasti akan lebih datar dan sepertinya rasa empati, kasih sayang serta tenggang rasa itu ga akan ada.

Sebelum menikah saya adalah saya, saya tetap menjalankan sifat saya walaupun saya memiliki banyak teman dan sahabat dan kami pun berbeda, tapi teman adalah teman, sahabat adalah sahabat berbeda dengan keluarga kita, walaupun sahabat sudah seperti keluarga tetapi tetap saja berbeda, saya tetaplah saya, sahabat tetaplah sahabat tanpa harus saling memaksakan untuk bisa merubah pribadi masing-masing. Ketika menikah, mana bisa begitu? yang ada semua ego masing-masing pasangan pasti ingin dimenangkan dan diikuti oleh pasangannya. Kalo sama sahabat bisa saja berantem lalu ga temenan lagi dan sudah saja, tetapi kalo menikah? walaupun cerai dibolehin tapi emang loe mau kawin cerai aja? dilihat orang juga ga enak kali apalagi ditambah udah punya anak, makanya ketika menikah hal ini menjadi hal yang sulit dan akhirnya mau tidak mau setiap pasangan mencoba mengerti pasangan yang lain dan berjalan bersama-sama walaupun berbeda. Sebenernya perbedaan itu bisa disatukan tapi ya itu ga akan mudah, perlu perjuangan yang besar untuk bisa berjalan bersama-sama seperti yang diinginkan.

Jadi sampai detik ini, saya dan dia masih berbeda tetapi sama, nah loh? Iya, kami masih memiliki separuh pribadi yang berbeda, separuh pribadi yang sama, semoga saya dan dia bisa menjadi sama ataupun jika tidak sama, bukan merupakan hal yang harus dibuat sulit.

psstt: ini postingan ga jelas emang, cuman karena gw lagi ga ada kerjaan aja hehehe.

Sunting di Kepala yang Menyiksa itu……..

Tak kusangka akhirnya aku menggunakan juga sunting di kepala yang menyiksa itu. perlu kujelaskan bagi kalian yang tak tahu sunting, sunting itu yang ada di kepala pengantin wanita padang yang besar dan tinggi itu, paham kan?.

Aku tak merasa tersiksa ketika menggunakan pakaian pengantin ketika akad, karena memang tidak begitu ribet, cukup kain dan kebaya, kemudian jilbab yang dihias dan ditambah dengan melati. begitu santai aku mengenakannya.

Tiba saatnya resepsi dimulai, dan aku harus menggunakan pakaian minang. pertama yang dilakukan, aku mengenakan pakaian minang yang berlapis-lapis, ketika ku pegang pakaian yang musti kupakai, aku langsung bilang “bajunya aja berat, apalagi suntingnya, matilah aku”. tapi karna bahagia, aku menyakinkan diri bahwa aku pasti bisa.

Apa yang mereka lakukan pada kepalaku? rambutku yang pendek dan sedikit itu dipilah-pilah dan diiket bersama seonggok / segepok daun pandan yang telah dikemas menjadi satu seperti bata bentuknya. rambutku diikat bersama daun pandan itu dengan begitu cepatnya sehingga sering pula aku teriak kesakitan. dan betenya, si pemasang sunting itu pun bilang “rambutnya irit banget”, fiuh…aku kan sudah setengah mati manjanginnya, masih juga dibilang irit, Dasar!. setelah rambutku berhasil di ikat semua ke daun pandan, tibalah saatnya pemasangan sunting satu persatu. karna sudah terbiasa memasangkan sunting di kepala orang, cepat sekali dia (wanita yang memasangkan sunting) memasangkan sunting tersebut ke kepalaku, sampai-sampai aku teriak beberapa kali karna rambutku tertusuk oleh sunting-sunting itu. tak ada 15 menit, sunting di kepalaku telah selesai dan sangat rapih dipasangkan olehnya. aku melihat ke kaca dan “wah….tinggi sekali suntingnya….”. tak bisa diprotes, ya sudahlah aku terima saja sunting setinggi dan sebesar itu. tetapi aku merasa bahwa sunting itu tidak kuat dikepalaku, karna kalo aku nunduk, sunting itu ikut bergerak, akupun menjadi khawatir dan kubilang ke dia ” mbak suntingnya kayak mo copot” dan dia bilang “enggak emang kayak gitu koq rasanya” dan benar saja, ketika aku hendak duduk tiba-tiba saja sunting itu bergerak dan rasanya ingin copot, aku pun berteriak, tapi…ga ada yang copot. dan katanya itu hanya efek saja karna rambutku pendek sehingga sulit untuk terikat dengan kuat. ya sudahlah apa mo dikata.

Tiba saatnya acara resepsi, aku harus berjalan iringan pengantin dari samping gedung sampai masuk gedung, lumayan panjang juga. aku pun hati-hati berjalan dengan mengenakan sunting yang aku sendiri pun belum terbiasa dengannya. sangat hati2 sekali sampai akupun tak berani atau tepatnya tak bisa tengok kanan kiri, takut suntingnya jatuh. ketika sampai di pelamina, aku merasakan bahwa rambutku tertarik, sakit rasanya. aku coba untuk memperbaiki letak sunting tapi tak ada hasil, masih saja sunting itu menarik rambutku. apa mo dikata, acara sudah dimulai dan sunting itu tak bisa diapa-apain, walhasil selama 2 jam respsi, aku merasakan kesakitan karena ketariknya rambutku.

Hal-hal yang kurasakan memakai sunting:

  • Ga bisa tengok kanan kiri, mo ambil minum yang ada di samping ku aja susah banget
  • Ga bisa cepika cepiki ma tamu2 yang dateng, dah diwanti2 ma juru riasnya “nanti kalo salaman jangan maju buat cium pipi ya, biar orang aja yang nyamperin buat cium pipi”
  • Sakit bukan kepalang ketika sunting itu menarik rambutku selama 2 jam
  • Ga bisa foto berpose bebas karena takut suntingnya copot
  • Intinya….Ga bebas deh…..

Selesai juga acaranya, yang kuinginkan hanya satu….cepet-cepet buka sunting ini. dan bener saja ketika satu persatu sunting itu dilepas, lega rasanya. aku bisa melakukan apapun dengan bebas tanpa ada beban.

Jadi…buat temen-temen yang mo nikah pake adat padang, siap-siap aja ya……

Menikah dan Pekerjaan yg Menumpuk

Seminggu akan menikah ku tak bisa bernafas lega, yang kufikirkan bukan lagi masalah pernikahan yang akan kuhadapi, melainkan pekerjaanku yang menumpuk. dikejar oleh pekerjaan yang harus selesai sebelum aku cuti menikah, SIAL!!!. Pekerjaan itu adalah Usulan Kegiatan untuk tahun 2009 tentang Electronic Publishing, SIAL! kerjaan tersebut harus selesai pada minggu ini tepatnya 6 Juni 2008. Fuih, menyebalkan tentunya, tapi dengan berbesar hati, ku langsung bertanya banyak pada Mr.Google tentang Electronic Publishing yang ternyata hanya begitu saja maksudnya. Akhirnya aku paham akan maksud dari electronic publishing tersebut, kuabuat proposalnya dengan yakin tetapi APA? ternyata terjadi kesalahpahaman anatara aku dan BOSS Besarku tentang electronic publishing tersebut. Aku berfikir bahwa aku akan membuat suatu sistem atau aplikasi tentang publikasi ilmiah secara elektronik yang notabene adalah hasil dari apa yang telah diterbitkan, TAPI bukan itu yang dimaksud oleh BOSS Besarku, dia mengingnkan aplikasi secara keseluruhan atau istilahnya sistem yang kompleks tentang penerbitan melalui media internet alias penerbitan online kayaknya. Ya sudahlah….ku ganti lagi proposalku, cukup memusingkan memikirkan angka-angka yang harus kumasukkan untuk kegiatan tersebut. tanya sana sini akhirnya dapat juga angka itu. TETAPI…..belum selesai proposal yang kubuat, datang lagi kerjaan yang sama-sama tak bisa menunggu yaitu mengisi tentang Analisis Jabatan, Huh ingin rasanya aku menolak tapi apa daya, aku tak punya kuasa apapun untuk menolaknya. Biarkanlah, ini nanti saja kufikir.

Ku mencoba untuk fokus menyelesaikan proposal agar aku dapat mengerjakan anjab, dengan pusing kepala dan kesabaran yang tak ada hentinya (Apa sih?), selesai juga proposal tersebut dan ku yakin jauh dari sempurna tapi setidaknya ku telah berusaha, biarkan BOSS yang menentukan. Senangnya selesai, tapi masih ada satu lagi yang harus selesai, ku coba mencari tahu alias meminjam anjabnya temenku yang tugasnya sama ma aku, dah Jreng…..selesai sudah pengisian anjabku. dalam hatiku berkata “begitu saja?” menyombongkan diri, hihihi. Lega rasanya pekerjaan yang menumpuk tersebut telah selesai dikerjakan, akhirnya ku bias bernafas lega saat ini dan buktinya aku bisa menulis ini kan?hihihi.

Besok, aku masih masuk kerja walaupun setengah hari, ah andainya besok aku libur bahagianya sehingga ku dapat bermanja di salon, tapi apa day tangan tak sampai, aku harus ke salon untuk memanjakan diri sehari sebelum hari H ku, menyedihkan memang tapi tak apalah, kucoba menjalaninya. saat ini aku hanya berdoa agar Dia (CPP ku) kembali ke Indonesia dengan selamat dan tak kurang satu apapun dan pernikahan kami dapat berjalan dengan baik tanpa hambatan apapun. doakan aku ya KAWAN.

  • Siapa hayoh?

    ga suka kekerasan, sebel bunyi klakson, suka renang, ga suka makan babat, suka banget pizza dan buah duku