Ketika ada teman yang bertanya kepada saya tentang keinginan mereka untuk memasukkan anaknya di sekolah negeri, biasanya saya bertanya kembali ke mereka apakah mereka sudah siap untuk memasukkan anaknya ke sekolah negeri. Kenapa begitu? karena sebagai orangtua memang kita harus siap, jadi bukan anak saja yang siap, lebih penting memang orangtua. Bukan karena sekolah negeri tidak bagus ya, bukan banget loh, sekolah negeri juga bagus tapi sistem dan metode belajar nya berbeda sehingga kita sebagai orangtua perlu siap menerimanya.

Sampai sekarang pun saya bisa mengatakan tidak ada pendidikan yang jelek hanya saja sistem dan metode pengajaran yang digunakan berbeda, sehingga cara mengatasinya pun berbeda. Sekolah negeri berbeda dengan sekolah swasta atau sejenisnya, beda banget lah, karenanya perlu ekstra perhatian ke anak untuk bisa mengimbangi sistem pembelajaran yang ada. Biasanya sih yang susah mengimbangi itu orangtua bukan anak haha karena pada dasarnya kan anak sebenarnya lebih mudah beradaptasi ya dibandingkan orangtua, karenanya banyak orangtua yang lebih stress daripada anak. Saya pun juga awalnya begitu koq, apalagi ditambah mika anak yang sedikit berbeda karena dominan anak visual kanannya lebih besar, sehingga stress saya bertambah 2x lipat. Waktu itu sempat berfikir untuk memindahkan mika ke sekolah swasta yang lebih santai tetapi saya mencoba mencermati, jika saya pindahkan apakah akan menghasilkan mika yang lebih baik atau sama saja? atau ini hanya keinginan dan ego saya saja yang tidak mau bersusah payah membantu mika sedangkan mika  asyik-asyik saja dengan sistem dan metode yang ada di sekolah negeri. Dan saya pun menjawab bahwa ini hanya kemalasan saya saja untuk mencoba mengerti, memberi waktu lebih dan memahami keadaan yang ada, jika saya mencoba untuk lebih saya yakin pasti bisa.

Hasilnya? ternyata bisa koq, mika bisa lebih baik dan saya pun mulai bisa mengikuti keadaan yang ada. Bagaimana caranya? saya tetap mengikuti metode yang sekolah berikan, ada PR ya harus dikerjakan, Ujian ya harus dilewati, setiap malam harus belajar ya harus dijalani tetapi cara dirumah sedikit berbeda dengan di sekolah. Sadar, beban mental anak sekolah sekarang itu berat banget, kelas 2 sd saja pelajarannya sudah mulai sedikit kompleks yang terkadang kita sendiri berfikir itu pelajaran bukan untuk anak 2 sd tetapi kelas 4 sd, tetapi harus dijalani kan?. kelas 1 dan 2 belajar di sekolah hanya kurang lebih 2 jam saja dengan 3 mata pelajaran setiap harinya, jelas lah kira-kira 30 menit saja anak belajar setiap 1 mata pelajaran, sisanya ya PR dirumah. Saya sebenarnya cukup senang dengan adanya PR, berarti ada waktu bagi saya atau age untuk tahu apa yang sedang dipelajari di sekolah dan mengetahui sampai mana tingkat pengetahuan mika akan pelajaran tersebut, tapi ya ga menutup kemungkinan juga kalo kadang saya juga malas menemani mika mengerjakan PR nya *namanya juga manusia ya*, tetapi PR ya PR tetap harus dikerjakan toh? akhirnya saya dan age yang harus bisa membagi waktu untuk bergantian menemani mika belajar dan mengerjakan PR nya.

Sering kali jidat saya berkerut melihat PR di LKS yang ada, bagi saya mungkin ini mudah untuk dijawab tetapi belum tentu bagi anak, banyak kata-kata yang belum mereka mengerti yang akhirnya membuat mereka tidak tahu harus menjawab apa pada soal-soal yang diberikan, ya saat itulah tugas kita untuk menemani dan memberitahu dengan bahasa yang lebih mudah mengerti oleh anak. Disini yang saya dapat bahwa bukan hanya anak yang belajar tetapi orangtua juga belajar untuk memahami keadaan anak, memahami kesulitan yang ada pada anak dan juga belajar sabar ahaha.

Nah balik lagi seperti yang saya bilang kenapa orangtua yang harus lebih siap menerima metode pembelajaran di sekolah negeri, ya karena memang berbeda dengan sekolah swasta. Mungkin di sekolah swasta kita orangtua yang banyak diberitahu oleh guru tentang perkembangan anak, tetapi di sekolah negeri ya kita orangtua yang harus banyak berbincang dengan guru tentang perkembangan anak kita karena jelas di sekolah dan di rumah pasti berbeda. Nah jangan sampai jika kita tidak mengerti hal ini dengan mudahnya menyalahkan guru atau pihak sekolah jika sang anak mendapat nilai kurang bagus bahkan sampai tidak naik kelas, nah jika sudah begini salahnya dimana?. Pernah saya mendapati sendiri orangtua yang kurang lebih seperti itu, tidak menerima bahwa anaknya mendapat nilai kurang bagus yang menyebabkan sang anak tidak naik kelas, seperti yang terjadi bahwa guru adalah penyebabnya, disalahkan dan di kambing hitamkan karena dianggap guru tidak memperhatikan anaknya dan pilih kasih dengan yang lain. Waktu itu saya langsung berfikir apakah memang salah guru atau orangtua yang mengalihkan kesalahan kepada guru? pada akhirnya saya menyimpulkan sendiri ketika melihat orangtua sang anak itu yang sepertinya sibuk bekerja, jarang sekali antar jemput anaknya bahkan dari yang saya dengar sendiri untuk belajar pun sang anak diberikan  guru khusus, nah jika begini bagaimana? siapa yang salah? siapa yang tidak paham anak? ehhhmm mungkin kalian bisa bantu jawab.

Mungkin nih ya, mungkin saja jika kita sudah bisa mengerti dan memahami keadaan yang ada, pola dan sistem yang ada, keterbatasan dan kelebihan anak, mau sekolah dimanapun akan lebih mudah dan tidak akan terjadi masalah, iya tidak?. Jujur saja bagi saya pribadi awalnya sulit untuk memahami keadaan dan kenyataan yang ada. Melihat teman saya yang lain yang sepertinya gampang-gampang saja dan tidak perlu ekstra tenaga dan waktu untuk membantu anaknya mengerjakan tugas sekolah, disitu terkadang saya iri. Nah jika sudah begitu pasti dihati saya bilang ” siapa suruh masukin anak ke sekolah negeri? ribet kan? jadi ga gampang kan?”. Balik lagi namanya juga manusia ya, ingin enaknya saja, apalagi saya, memang benar ingin enaknya, makanya deh keluar kata-kata itu, tetapi hanya sesaat koq, karena saya langsung kejedot dan kembali memulai perang batin untuk menurunkan ego ke enakan saya itu haha. Menerima kenyataan yang ada bahwa mika ternyata berbeda membuat saya mencoba belajar menurunkan ego saya memahami keadaan yang ada. Waktu itu saya takut jika mika tidak naik kelas, karena waktu saya sekolah yang juga saya sekolah di sekolah negeri, saya tidak pernah tidak naik kelas dan tidak pernah tidak juara kelas, peringkat 3 kelas sudah pasti saya dapat. Lalu kenapa sekarang anak saya tidak seperti saya? jelas itu peran batin bagi saya, walaupun saya sadar anak saya tidak bodoh, malah bisa dibilang lebih cerdas dari saya sepertinya haha. Sampai akhirnya saya sadar jika memang mika harus tidak naik kelas karena dia belum siap ya tidak apa, setiap anak berbeda dan kita orangtuanya harusnya bisa lebih paham akan anak. Jika begini sepertinya akan lebih enak tanpa harus ada yang disalahkan dan hanya perlu tambahan usaha lagi untuk menjalaninya. Sampai pada ketika kita berhasil menurunkan ego tersebut dan hasilnya lebih baik dari yang kita bayangkan itu rasanya seperti ……. ah tidak bisa digambarkan seperti halnya mika yang akhirnya naik kelas dengan nilai yang cukup baik, itu adalah hasil yang membanggakan bagi kami. Lantas sudah selesai perjuangannya? ya enggak lah ahaha , masih panjang, masih terus harus berjuang, memahami dan menurunkan ego yang ada.

Jadi memang bisa dibilang, sistem pendidikan dan metode di sekolah negeri sangat berbeda dengan sekolah bukan negeri. Jelas lah ya berbeda karena sekolah bukan negeri atau swasata berbondong bondong memberikan metode yang berbeda dari sekolah negeri supaya banyak peminatnya. Waktu dulu masih saya kecil sampai remaja, sekolah di sekolah negeri adalah suatu kebanggaan, bahkan tidak terpikir untuk mencoba masuk ke sekolah swasta, rasanya bagaimana begitu jika tidak sekolah di sekolah negeri. Dan saya yakin teman-teman yang sebaya dengan saya pasti merasakannya juga kan?. Zaman pun berubah dan berbeda, keyakinan akan sekolah bagus pun pasti berubah, karenanya terkadang ada beberapa orang yang berbalik mengatakan sekolah negeri sekarang sudah tidak bagus, jadi lebih baik sekolah swasta. Balik lagi itu urusan masing-masing orang ya, mau memasukkan anaknya sekolah negeri atau swasta kembali ke masing-masing orangtua. Yang jelas, tidak ada sekolah yang tidak baik atau tidak bagus, semuanya sama-sama ingin memberikan yang terbaik dan membantu mencerdaskan bangsa bukan? Standar bagus setiap orang pun berbeda, tetapi terlepas itu sekolah negeri atau swasta, sekolah terbaik bagi anak adalah keluarga, benar bukan?

Yang jelas memang, jika ingin anak sekolah di sekolah negeri, kita orangtua harus lebih banyak waktu untuk membantu dan menemani anak dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya dan membantu memahami pelajaran-pelajaran yang ada. Karena jika tidak begitu, anak yang pintar pun mungkin  bisa saja tertinggal pelajaran dan mendapatkan nilai yang kurang bagus.  Jadi, sudah siap dengan pilihan anda?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked (*).

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  • Siapa hayoh?

    ga suka kekerasan, sebel bunyi klakson, suka renang, ga suka makan babat, suka banget pizza dan buah duku