Hari ketiga adalah hari terakhir kami jalan-jalan di Pulau Bangka karena esok kami sudah harus pulang dengan jadwal pesawat jam 11 siang yang sudah pasti tidak akan sempat kemana-mana selain beli oleh-oleh. Di hari ketiga ini kami sempat bingung mau kemana, sampai akhirnya tercetus untuk ke Danau Kaolin di desa Air Bara, Koba, Bangka.  Perjalanan ke Danau Kaolin cukup jauh tetapi tidak sejauh Bogor-Jakarta ditambah kemacetannya ya ahaha. Tetap saja sejauh apapun di Bangka sudah pasti tidak kenal macet, jalanan juga lumayan mulus sehingga tak terasa jauh walaupun lumayan jauh ahaha.

Sebelum kami ke Danau Kaolin, karena seperjalanan kami mampir terlebih dahulu ke Hutan Pelawan di desa Namang Bangka. Menurut Visit Bangka Belitung : ” Desa Namang adalah sedikit desa di Bangka Belitung yang berhasil mempertahankan keberadaan Hutan Pelawan yang luasannya semakin sedikit karena terkonversi menjadi permukiman ataupun perkebunan dan pertambangan. Karena kegigihan kepala desa ini, Desa namang menjadi desa wisata dengan produk unggulan yang terkait dengan Hutan Pelawan”. Di Hutan Pelawan ini kita bisa menemukan produk-produk yang di dapat disini seperti Madu Pelawan dan juga Beras Merah dan Hitam yang bisa dibilang murah. Kenapa dibilang murah? karena nyokap beli beras itu dengan harga 50rb untuk 6kg beras ahaha, coba bandingkan harga beras merah disini, sudah pasti jauh lebih mahal. Tidak hanya beras merah, madu pun dijual disini yang terkenal adalah madu pahitnya, tetapi saya tidak beli madu yang pahit, hanya madu manis yang saya beli. Oh ya di Desa Namang inilah yang terdapat sawah yang kononnya orang-orang Bangka sempat ramai mengunjungi sawah ini karena mereka tidak mempunyai sawah yang berlimpah. Di Hutan Pelawan ini sayangnya saya ga ikut turun karena Jibril baru saja turun, jadi saya menunggu di mobil. Jadi katanya di dalam Hutan Pelawan ini selain banyak pohon-pohon, ada juga Jembatan Merah yang bagus untuk foto-foto.

20

32

Selesai di Hutan Pelawan, kunjungan kami berikutnya adalah Danau Kaolin. Sepanjang jalan ke Danau Kaolin kami disuguhi pemandangan pantai, sayangnya saya tidak tahu pantai apa ini, tetapi kami bisa menikmati pantai jika kami berhenti. Sayangnya perjalanan kami ke Danau Kaolin ini ditemani Hujan yang cukup lebat ditambah jalanan masuk ke Danau Kaolin yang tidak beraspal, masih jalan tanah yang belok sehingga kami harus pintar mencari jalan agar tidak tergelincir di tanah. Nah sayangnya Danau Kaolin ini belum dikelola dengan baik dilihat dari jalan yang masih jelek, semoga kedepan bisa dikelola dengan baik karena pemandangan yang di dapat begitu Indah.  Danau Kaolin sendiri oleh masayarakat lokal sering dibilang dengan sebutan camoy atau kalong air yang diambil dari istilah pertambangan yaitu lobang. Jadi Danau Kaolin ini adalah bekas lobang pertambangan timah yang terus tergali dimana tanahnya terdapat unsur kaolin yang biasanya dipakai untuk membuat kosmetik. Danau Kaolin ini dikeliling oleh perbukitan pasir, mengandung tanah kaolin yang menyebabkan airnya berwarna biru yang berasal dari pancaran tanah kaolin tersebut. Danau Kaolin ini memiliki kedalaman sejauh 30 meter, jadi kalo nyebur kesini lumayan kelelep ya hehe. Tidak begitu lama kami di Danau Kaolin karena memang tempat ini hanya bagus untuk foto-foto karena memang belum dikelola dengan baik sehingga tidak ada tempat menarik lainnya selain di Danau Kaolin yang biru.

25

24

23

21

Selesai di Danau Kaolin, kami rencananya ingin langsung pulang, tetapi anak-anak sepertinya tidak setuju dan meminta kami untuk berhenti di pantai yang tadi kami lewati. Untungnya hujan sudah berhenti, sehingga anak-anak bisa bermain di pantai. Dari kemarin ke pantai, anak-anak belum pernah ada yang nyebur bermain air dan berenang di pantai, jadi disinilah saya membolehkan Mika dan Jibril (yang takut) untuk bebas main air di pantai sampai kulit mereka gosong. Melihat anak-anak berenang di pantai begini, mengingatkan saya waktu kecil juga sering bermain air di pantai, guling-guling di pasir, cebur ke air laut, kejar-kejaran dan hal-hal seru lainnya. Beruntung Mika dan jibril bisa menikamtinya juga. Perjuangan banget untuk bisa membuat Jibril mau nyemplung ke air, sebenernya Jibril bukan anak yang takut air, tapi waktu pertama kami ke pantai pasir padi, dia berani untuk ke air pantai, tetapi ketika air surut, kakinya langsung terendam pasir yang membuat dia takut dan nangis, jadi mungkin agak sedikit shyok di Jibril. Nah di pantai ini agak sedikit saya siasatin dan pelan-pelan sampai akhirnya dia mau menyeburkan dirinya ke laut walaupun harus dipegang oleh saya, yay akhirnya berhasil juga. Sempat susah mengajak anak-anak untuk menyudahi bermain air di pantai ini, tetapi karena di janjikan untuk pergi ke alun-alun jadilah mereka baru mau beranjak dari pantai.

33

34

Pulang dari pantai dan sebelum ke alun-alun, kami mampir dulu ke Kelenteng Tanjung Bunga di Pasir Padi Bangka. Banyak kelenteng di Kelenteng Tanjung Bunga seperti Kelenteng Kwan Tie Miaw yang merupakan tempat ibadah umat Kong Hu Cu yang sudah berusia ratusan tahun. Ada juga Kelenteng Dewi Laut yang letak kelentengnya berhadapan langsung ke laut. Kami mengunjungi Kelenteng Dewi Laut yang memang cantik dan indah berhadapan dengan pantai tanjung bunga. Halaman Kelenteng Dewi Laut ini dikelilingi oleh 12 patung shio dari patung shio Tikus, Kerbau, Macan, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing dan Babi. Kerennya adalah patung-patung ini dibangun atas sumbangan para sukarelawan yang namanya tertera di bagian bawah patung shio tersebut. Selain itu juga hampir semua ornamen atau perlengkapan yang ada di kelenteng ini merupakan hasil sumbangan dari pemeluk Kong Hu Cu, keren ya?. Di Kelenteng Dewi Laut ini kami hanya sebentar, foto-foto saja karena anak-anak semua pada tidur kecuali Jibril yang kebangun waktu saya turun dari mobil, selain itu juga karena sudah maghrib dan janji dengan anak-anak untuk ke alun-alun.

27

Memenuhi janji kami ke anak-anak, malam terkahir ini kami ke Alun-Alun Taman Merdeka Bangka di kota Pangkal Pinang. Di Alun-Alun Taman Merdeka Bangka jika malam hari sangat ramai, bisa dibilang ini tempat hiburan bagi warga Bangka. Berbagai macam permainan ada disini, dimulai dari mobil-mobilan, motor-motoran, kereta-keretaan, becak dan berbagai macam tenda kuliner tersedia disini. Sudah pasti dan jelas ya ini tempat surga bagi Mika dan Jibril termasuk Zyra dan Zygo yang orang Bangkanya juga ahaha. Namanya juga anak-anak, kalo sudah melihat permainan ini di depan mata sudah pasti semua mau dimainkan. Sebenernya ketika di Alun-Alun Taman Merdeka Bangka ini saya sudah lelah, sepertinya akumulasi beberapa hari belakangan ini baru terasa pada malam itu, jadi saat itu rasanya ingin cepat pulang dan tidur, tapi manalah mungkin ya, anak-anak masih asyik main dan di dalam otak ini juga terus berfikir kapan mau packing ya ahaha. Akhirnya kami harus menyudahi keseruan anak-anak bermain dan segera pulang untuk beristirahat persiapan besok pulang.

30

29

28

Ah tak terasa ya cepat sekali waktu ketika liburan kami ke Bangka, karena itu saya bilang belum puas ahaha. Ya semoga kami masih punya kesempatan untuk mengunjungi Bangka lagi ya, aamiin. Sampai jumpa……..

31

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked (*).

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  • Siapa hayoh?

    ga suka kekerasan, sebel bunyi klakson, suka renang, ga suka makan babat, suka banget pizza dan buah duku