Setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda, begitu juga dengan kedua anak saya Mikail dan Jibril yang sangat jelas berbeda sekali karakkternya.  Perbedaan karakter tentu mempengaruhi dalam pola berfikir dan potensi masing-masing anak dan diperlukan gaya penanganan yang berbeda pula bagi setiap anak.  Karenanya ketika diundang oleh MamaComm dengan tema “How to Discover Your Child’s Potential” bersama psikolog AJT CogTest, Diana Lie, M.Psi dari Melintas Cakrawala  di Rojiro Coffe and Resto, Rada Auri, Depok saya sangat antusias karena cocok sekali dengan kebutuhan saya dalam menangani anak-anak khususnya Mikail yang karakternya berbeda.

Biasanya Label-label negatif seringkali terucap secara sengaja maupun tidak oleh orangtua ditujukan kepada anaknya seperti menyebut anak nakal, pemalas, atau bahkan bodoh. Ketika orangtua mengajar anak di rumah seringkali mereka menemukan anaknya mengalami kesulitan dalam belajar.

Persoalan seperti anak sudah menguasai materi waktu diajarkan rumah namun saat di sekolah tidak dapat menyelesaikan materi tersebut. Persoalan-persoalan inilah yang kadang membuat orangtua melabeli anaknya secara negatif. Idealnya tiap orangtua perlu mengetahui profil kognitif anaknya, agar kesulitan belajar anak dapat difasilitasi atau disediakan dukungan yang sesuai dan tepat.

Apa itu Kemampuan Kognitif?

Kemampuan kognitif adalah konstruksi proses berpikir, termasuk mengingat, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan, sejak kecil menuju remaja hingga dewasa. Teori kognitif lebih menekankan bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang dimiliki oleh orang lain.

Teori Perkembangan Kognitif menurut “Jean piaget “

Teori Jean Piaget tentang perkembangan kognitif memberikan batasan kembali tentang kecerdasan, pengetahuan dan hubungan anak didik dengan lingkungannya. Kecerdasan merupakan proses yang berkesinambungan yang membentuk struktur yang diperlukan dalam interaksi terus menerus dengan lingkungan. Struktur yang dibentuk oleh kecerdasan, pengetahuan sangat subjektif waktu masih bayi dan masa kanak – kanak awal dan menjadi objektif dalam masa dewasa awal.

Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam perkembangan kognitif yaitu:

 1. Fisik

Interaksi antara individu dan dunia luat merupakan sumber pengetahuan baru, tetapi kontak dengan dunia fisik itu tidak cukup untuk mengembangkan pengetahuan kecuali jika intelegensi individu dapat memanfaatkan pengalaman tersebut.

2. Kematangan

Kematangan sistem syaraf menjadi penting karena memungkinkan anak memperoleh manfaat secara maksimum dari pengalaman fisik. Kematangan membuka kemungkinan untuk perkembangan sedangkan kalau kurang hal itu akan membatasi secara luas prestasi secara kognitif. Perkembangan berlangsung dengan kecepatan yang berlainan tergantung pada sifat kontak dengan lingkungan dan kegiatan belajar sendiri.

3. Pengaruh sosial

Lingkungan sosial termasuk peran bahasa dan pendidikan, pengalaman fisik dapat memacu atau menghambat perkembangan kognitifnya.

Dengan latar tersebut, Bertujuan memberikan edukasi mengenai pentingnya peran kemampuan kognitif dalam mencapai kesuksesan belajar dan mengajar, AJT CogTest menyelenggarakan acara ini ditujukan bagi para orangtua yang memiliki anak usia sekolah. Psikolog AJT CogTest, Diana Lie, memberikan materi selama satu jam lebih dengan diakhiri dengan sesi tanya jawab.

Dalam materinya Diana Lie mengatakan bahwa dalam kesuksesan anak terdapat peran orang tua di samping peran pendidik di sekolah dan anak itu sendiri. Dijabarkan juga teori mendidik Baumrind, yang membagi gaya mendidik menjadi 4 kategori yaitu otoriter, otoritaria/demokratis, permisif, dan neglect (tidak dipedulikan). Orang tua wajib memahami terlebih dahulu profil anaknya agar selanjutnya dapat membantu atau mengarahkan anak dengan tepat, berdasarkan minat anak bukan kemauan orang tuanya.  Untuk itu dibutuhkan parenting style dan potential mapping untuk mengetahui kebutuhan anak.

Selain itu acara ini dibawakan oleh Ibu Zata Ligouw yang sudah menjadi pelanggan kami. Bu Zata telah mengetes anaknya dengan AJT CogTest beberapa bulan lalu. Setelah mengetes Sabil, Bu Zata merasakan manfaatnya dan dapat mengaplikasikan rekomendasi yang tertera dalam hasil laporan tes AJT CogTest. Diketahui Sabil memiliki kemampuan auditori yang cukup bagus sehingga terjawablah penasaran Ibu Zata Mengetahui Ibu Zata tergabung juga dalam komunitas blogger, ia berharap kelak orangtua-orangtua lainnya juga dapat memahami profil kognitif anaknya terlebih dahulu agar dapat membantu anak mencapai potensinya sesuai kelemahan dan kekuatan anak.

Ari Kunwidodo selaku Direktur Utama PT Melintas Cakrawala Indonesia menyampaikan, “Tema How to Discover Your Child’s Potential diangkat dikarenakan banyaknya orang tua yang bersemangat membantu anaknya untuk sukses namun ternyata upayanya justru kadang membuat anak itu sendiri menjadi enggan berusaha lebih giat. Diharapkan setelah acara ini, para orang tua yang datang dapat berbagi ilmu mengenai parenting ke yang lain dan sadar pentingnya memahami profil kognitif anak sejak dini.”

Lalu bagaimana caranya mengotimalkan kognitif anak?

Menurut Mbak Diana Lie , Kesuksesan dalam belajar untuk mengoptimalkan potensi anak terdapat 3 hal, yaitu:

  • Sekolah : Kegiatan belajar – mengajar. Pendampingan psikologis.
  • Anak : Sosial – Emosional, Kognitif, Perilaku
  • Orangtua : Pola Asuh.

Potensi yang optimal itu akan mempengaruhi performance anak. Kesuksesan itu tidak akan terjadi jika hanya anak saja, sekolah saja atau orangtua saja. Jadi semua harus kerjasama, ada pihak sekolah, ada pihak anak itu sendiri ada pihak orangtua. Ketiga aspek itu adalah dasar dalam pembelajaran.

Pola Asuh / Parenting Style

Menurut gambar dibawah ini bahwa Control yang high adalah orangtua memiliki ekspektasi tinggi dan ingin mengontrol semua sikap anaknya. Nurture high yaitu sikap ke anaknya hangat sekali.

Control yang lownurture yang low akan menjadi Uninvolved (Tidak Peduli). Orangtua yang dingin dan tidak punya tuntutan, mau anaknya mandi, mau ga mandi, mau makan mau nggak makan terserah. Terkesan cuek.

Control yang rendahNurture yang tinggi menjadi Permissive(permisif). Kalau di ibaratkan kado, ini kado yang tertutup sangat rapiii sekali. Orangtua yang berfokus pada kebahagiaan anaknya, tapi tidak memberikan tuntutan pada anak, yang terjadi apa? Anaknya memang merasa dicintai, dan merasa disayangi. Tetapi kadang kala tidak tahu dimana anak itu harus bersikap. Biasanya terlihat jika anak di lingkungan bebas, dia bingung.

Semua kebutuhan anak dipersiapkan dengan matang dan membuat anak nyaman. Mau ini itu dibeliin. Tetapi pas anak masuk ke dunia yang keras dia akan bingung. Karena dunia luar ga bisa memberikan kenyamanan seperti yang diberikan orangtuanya.

Control yang TinggiNurture yang rendah menjadi Authoritarian(Otoriter). Dimana tuntutan tinggi, contohnya harus nilai 100, anak harus bisa ini, anak harus bisa itu. Terdapat kata harus, harus dan harus. Tetapi dingin, ketika anak itu gagal, anaknya tidak diberikan support. Ketika anak sedang bercerita tentang kesuksesannya, dia tidak di beri apresiasi. Ini adalah sikap otoriter. Apa yang terjadi, dan dirasakan oleh anak? “Saya hanya dimintaaa terus” Jadi dari sisi emosionalnya tidak terpenuhi. Dan akan membuat anak bingung.

(Otoriter). Dimana tuntutan tinggi, contohnya harus nilai 100, anak harus bisa ini, anak harus bisa itu. Terdapat kata harus, harus dan harus. Tetapi dingin, ketika anak itu gagal, anaknya tidak diberikan support. Ketika anak sedang bercerita tentang kesuksesannya, dia tidak di beri apresiasi. Ini adalah sikap otoriter. Apa yang terjadi, dan dirasakan oleh anak? “Saya hanya dimintaaa terus” Jadi dari sisi emosionalnya tidak terpenuhi. Dan akan membuat anak bingung.

Control yang tinggi, Nurture yang tinggi akan menjadikan Authoritative (demokratis). Ini adalah yang paling ideal. Artinya disiplinnya tinggi, aturannya jelas, orangtua dan anak punya komunikasi yang baik. Jadi situasi seperti ini, aturan nya seperti ini. Jadi kontrolnya jelas di beberapa situasi yang jelas aturannya. Dan nurturenya tinggi ini yang membantu komunikasi orangtua dan anak. Ketika anak berada di situasi yang tidak menyenangkan, orangtua tidak berbicara “kamu harus….” tetapi Orangtua bertanya kepada anak “apa yang kamu rasakan?” , “are you happy with this?”

Di teori Control tinggi dan Nurture tinggi itu ideal, tapi pada kenyataannya It’s not easy! Di sini anak mau mendengarkan orangtua dan orangtua mau mendengar anaknya.

Bagaimana parenting yang dibutuhkan oleh anak?

  • Listen first, respond later.
  • Dengerin dulu anak maunya apa, baru kita respon. Walau pada kenyataannya pada kondisi tertentu kadang susah apalagi jika anak sudah beranjak remaja kita dan anak kita sama sama keras.
  • You both are equal as human being while talking about your feelings and thoughts.  Kadang ada orangtua yang tidak memposisikan dia dan anaknya equal as human, biasanya terjadi ketika anak kita masih kecil atau masih sekolah dasar. Orangtua merasa superior di banding anaknya karena masalah usia. Jika anaknya sudah remaja baru deh orangtua merasa sederajat. Apalagi ketika anaknya dewasa, orangtua baru merasa bisa terbuka karena merasa sama sama dewasa.
  • Discuss both feelings and thoughts after everyone gets calm.Masa sekarang beda dengan jaman dulu. Dahulu jika ada masalah tidak dibicarakan takut tersinggung jadi dipendam saja. Ketika kita bicara kedua pemikiran dan perasaan masing masing, itu kita membangun namanya communication skill. Tetapi kita bisa membicarakannya baik baik dengan anak.
  • Trust and explain to them. They will understand you. Jelaskan ke anak anak apa yang kita rasakan. Tidak semua anak anak paham jika kita marah dan mereka merasa kalau mereka salah. Itulah gunanya komunikasi. Kita punya hak untuk menjelaskan kepada anak anak kita tentang perasaan kita kepada anak anak. Kenapa? Misalnya “Kenapa saya marah kepada kamu? karena saya takut kehilangan kamu” Jika kasusnya anak pergi bermain tanpa bilang ke kita, dan pas mereka kembali kita marah marah.
  • Physical touch still can be used as love expression even they are getting older. Ada kasus dimana orangtua yang sibuk, memanjakan anaknya dengan membelikan apa saja yang anak mau sebagai tanda sayang. Padahal anaknya ingin perlakuan seperti ingin di peluk, bercanda dan hal hal yang menyangkut sentuhan bukan cuma dari ucapan “bunda sayang kamu” atau membelikan mainan yang anak mau.

Disiplin yang Konsisten

  • Reward : Give what they like
  • Reinforcement negative : Take what they like
  • Be Consistent : Execute what you said
  • Be one team with your spouse : Apply what you both have agreed before.

Potential Mapping

Kemampuan setiap anak berbeda-beda, ada yang lebih cenderung ke visual, atau ke audio. Berdasarkan GCA (General Cognitive Ability) atau Kecerdasan Umum dibagi menajdi 8 bagian, seperti gamabr dibawah ini. Dari gambar tersebut akan terlihat kemampuan anak kita cenderung ke pola yang mana sehingga dapat membantu kebutuhan mereka.

Kesimpulan yang didapat dari penjelasan Mbak Diana Lie mengenai  How to Discover Your Child’s Potential adalah:

  • Berhenti untuk menilai anak anda dan cari masalah yang dihadapi anak
  • Mengenal/mengetahui kemampuan kognitif anak
  • Komunikasi dari hati ke hati dengan anak
  • Menerapkan disiplin yang konsisten
  • Berikan Support yang besar atas kemampuan mereka

Jadi begitu pentingnya kita mengenal kemampuan kognitif anak kita agar menunjang masa depan anak dan kita tidak salah menilai anak. Saya sendiri langsung tertarik untuk mencoba AJT Cogtes ini kepada Mikail dan Jibril agar bisa memfasilitasi kebutuhan mereka nantinya.

Nah bagi yang ingin mencoba AJT Cogtes dan ingin bertanya lebih dalam lagi, bisa dilihat di website Melintas cakrawala di http://www.melintascakrawala.id 

PT. Melintas Cakrawala Indonesia
Graha Irama 5th Floor Unit F
Jalan H.R Rasuna Said X-1 Kav 1-2
Jakarta 12950P

Tlp : +6221-5261487

 Email: info@melintascakrawala.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked (*).

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  • Siapa hayoh?

    ga suka kekerasan, sebel bunyi klakson, suka renang, ga suka makan babat, suka banget pizza dan buah duku