Hari ini tepat 5 tahun lalu di suatu pagi kota Jogjakarta mengalami gempa yang cukup besar yang membuat kota Jogja porak poranda dan seperti mati suri. Dan ketika kejadian gempa 5 tahun lalu, gw ada di Jogja untuk mengenyam pendidikan disana. Sungguh hal yang tidak pernah gw ataupun masyarakat jogja harapkan bahkan bayangkan akan terjadi gempa yang bisa dibilang membuat kami trauma lahir batin.

Kejadian gempa di pagi hari itu membuat seluruh warga jogja panik luar biasa. Gempa itu benar-benar terasa sekali guncangannya di kota, bagaiman yang di Bantul atau daerah yang dekat pusat gempa? saya tidak bisa menggambarkannya karena memang banyak rumah-rumah yang hancur berkeping-keping, begitu juga dengan sekolah ataupun gedung perkantoran, semua ga luput dari amukan sang gempa. Waktu gempa terjadi, gw langsung keluar rumah karena guncangan semakin keras, semua orang keluar dari rumah masing-masing, kebetulan waktu itu age lagi ada di Jogja dan ini membuat gw sedikit kuat dan ga nangis. Anak-anak kost gw udah pada panik dan nangis, bahkan sampai ada yang lari entah kemana bawa handuk dan ijazah, haha (kl inget ini mau ketawa). Mungkin kalo ga ada age, gw pasti udah ikutan lari juga tuh bawa ijazah, hihi. Dari kepanikan itu, kami mengira itu adalah gempa yang disebabkan oleh letusan gunung merapi, karena saat itu memang gunung merapi juga lagi seneng bergoncang-goncang. Tetapi ternyata kami salah, itu bukan dari gunung merapi!. Tak lama orang-orang mulai berteriak tsunami sambil berlari-larian hendak menyelamatkan diri. Mendengar orang teriak tsunami, air datang dan sejenisnya, gw bukannya kabur malah mikir: kalo emang tsunami sepertinya air bah nya ga akan sampai sini, jauh sekali sepertinya. Tetapi Alhamdulillah, tsunami itu tidak ada, hanya gempa, ya gempa yang sampai sekarang masih terasa menyayat dihati.

Sejak gempa terjadi, Jogja pun mati suri. Walupun listrik masih menyala tetapi keadaan kota yang biasanya ramai mendadak sepi dan hampir seperti kota mati. Rumah makan pun tidak ada yang buka, sehingga membuat kesulitan bagi kami yang kost untuk mencari makanan, jikapun ada yang buka sudah pasti antri panjang sekali. Oh, saat itu saya rindu Jogja yang seperti biasanya dan ingin sekali pulang ke Jakarta. Karena banyak rumah yang rusak, banyak warga Jogja yang mengungsi ke pengungsian yang disebar disetiap titik. Beberapa anak kost gw ada juga yang ke pengungsian karena takut terjadi gempa lagi dan takut rumah kost ambruk, tapi gw dan beberapa temen kost yang lain tetep setia di kost sambil tidur berjamaah di ruang tamu kost, biar kalo ada gempa lagi kami bisa langsung keluar rumah.

Walaupun diguncang gempa yang lumayan besar, Jogja bisa bangkit dari keterpurukan itu, semua warga bahu membahu untuk membangun kembali rumah mereka yang rusak. Bahkan sampai waktu KKN pun gw ditempatkan di daerah yang terkena gempa juga untuk membantu membuat fasilitas atau pengajaran baru bagi warga disana. Sungguh, gempa 5 tahun lalu merupaka kenangan yang tidak akan pernah terlupakan dan trauma itu masih membekas dihati. Semoga bencana alam apapun dapat membuat kita menjadi kuat dan sadar akan kekuatan Yang Maha Kuasa, Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked (*).

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  • Siapa hayoh?

    ga suka kekerasan, sebel bunyi klakson, suka renang, ga suka makan babat, suka banget pizza dan buah duku