Mika yang sekarang sudah kelas 3 dan berumur 8,5 tahun merupakan anak yang sangat perasa, mudah sekali menangis jika itu membuat dia sedih. Di umur dia yang sedang banyak ingin tahunya, tentu perlu kesabaran ekstra bagi saya untuk menyikapinya. Ditambah lagi adiknya Jibril yang berusia 3,5 tahun juga sedang memiliki perilaku yang laur biasa bikin pusing dan ingin membuat saya teriak setiap hari. Awalnya saya berfikir dengan jarak yang luamayan agak jauh antara Mika dan Jibril bisa mendapati keadaan yang lebih baik daripada yang berajarak dekat, tetapi ternyata sama saja.

Sebagai orangtua tentu saja saya ingin semuanya berjalan mulus, anak-anak bisa diatur dan dididik dengan baik tanpa saya harus bersusah payah mencari cara yang pas agar mereka bisa mengikuti aturan-aturan yang saya buat di rumah. Tetapi sayangnya itu hanya ada di dunia mimpi haha, kenyataannya tentu saja tidak semudah yang dibayangkan, apalagi Mika dan Jibril bisa dibilang anak yang super aktif. Ketika saya berharap Mika sebagai kakak bisa lebih dewasa dan bisa bertugas sebagai kakak, ternyata ya tidak semudah harapan saya. Dan ketika harapan saya Jibril bisa mendengarkan kakaknya, ya ternyata tidak semudah itu juga. Masih banyak hal dan PR yang harus saya lakukan agar Mika dan Jibril bisa saling bekerjasama dengan baik khususnya sebagai kakak dan adik. Sebagai anak tertua dan hanya memiliki 1 adik yang jaraknya terpaut 10 tahun dari saya, tentu saja saya dulu bisa dibilang sebagai kakak yang baik. Entahlah, karena hanya berdua dan jarak yang cukup jauh, rasanya bagi saya tidak enak saja jika saya harus ribut atau rebutan sesuatu dengan adik saya. Bisa dikatakan saya dan adik saya tidak pernah bertengkar sama sekali. Harapan saya Mika dan Jibril bisa seperti saya dan adik saya, tetapi ternyata ya tidak mudah dan tidak seperti yang saya harapkan.

Sampai pada akhirnya saya termenung dan berfikir, apa yang salah selama ini dengan pola asuh dan didik saya. Memang sih saya akui, belakangan ini saya terlalu sering ngomel dan ngomel dengan Mika dan Jibril, harapannya dengan ngomel mereka bisa nurut tetapi ternyata salah, bukannya nurut, mereka semakin ga nurut hahaha. Saya tersadarkan bahwa yang harus saya perbaiki dulu adalah hubungan saya dengan Mika. Saya berfikir bahwa Mika sudah bisa diajak untuk berdiskusi dan sudah bisa mengungkapkan keinginannya, sedangkan Jibril belum bisa. Akhirnya saya mencoba melakukan beberpa hal yang dulunya sering saya lakukan bersama Mika yang akhir-akhir ini sudah jarang saya lakukan lagi. Sempat berdiskusi juga dengan age, apa yang harus saya lakukan.

Sampai akhirnya saya mencoba kembali apa yang pernah dulu saya lakukan bersama Mika. Saya mengajak Mika kencan berdua, makan di tempat makan dan jalan-jalan berdua saja. Nah ketika kami makan, saya mulai mengajak Mika bercerita dan berdiskusi tentang apa yang dia inginkan dan apa yang saya inginkan sampai kami membuat kesepakatan bahwa Mika akan bekerjasama dengan saya, membantu saya dan menuruti apa omongan saya. Saya pun sepakat tidak akan marah-marah dan ngomel-ngomel ga jelas ke Mika. Diskusi dan cerita kami berlangsung sangat menyenangkan, Mika mulai banyak bercerita tentang segala hal dan saya harus menjadi teman setia mendengarkan ceritanya. Dan ternyata cara ini sangat berhasil diantara saya dan Mika. Mika bisa menjadi anak yang sangat baik mengikuti kerjasama yang telah kami buat dan saya tidak perlu capek-capek ngomel setiap hari.

Selain itu, Mika juga memiliki ide untuk membuat semacam diary antara saya dan Mika. Mika akan menulis sesuatu tentang apa yang sudah dia lakukan atau permintaan maaf kepada saya, begitu juga dengan saya. SAya akan menuliskan sesuatu hal yang tidak saya suka dari Mika di buku tersebut. Saya tidak tahu dari mana ide ini Mika dapat, tetapi lucu juga jika dilakukan. Selain bisa menjadi tempat Mika belajar menulis cerita, ini juga akan menjadi buku diary yang menarik bagi kami.

Menjadi orangtua memang sulit ya, harus banyak terus belajar dan mencari cara terbaik bagi anak dan kita sendiri sebagai orangtua. Ini saya lakukan karena merasa bahwa tidak mungkin tidak ada yang tidak bisa diperbaiki asala kita bisa mnegerti keadaan yang sesungguhnya tanpa banyak menuntut macam-macam kepada anak yang ternyata anak belum siap dan mampu untuk melakukannya. Kuncinya adalah sadar kapasitas anak dan sadar apakah kita sudah menjadi orangtua yang baik bagi anak?. Bahwasanya anak adalah titipan Tuhan yang harus kita jaga dengan baik, maka perilakukanlah anak sebaik-baiknya. PR saya dan age sebagai orangtua tentu masih sangat banyak, masih banyak kesalahan yang kami lakukan dan tentu saja kami berusaha untuk terus belajar dari kesalahan-kesalahan yang telah kami lakukan dan belajar untuk memberikan yang terbaik semampu kami.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked (*).

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  • Siapa hayoh?

    ga suka kekerasan, sebel bunyi klakson, suka renang, ga suka makan babat, suka banget pizza dan buah duku