Terkadang saya iri melihat bagaimana cara Mika berteman dengan teman-temannya. Terkadang saya juga heran kenapa bisa Mika menjadi anak yang mudah sekali berteman.  Memang sih sudah terlihat dari kecil, Mika memang merupakan anak yang penyayang, tidak ingin menyakiti temannya walaupun temannya salah. Pernah suatu saat Mika dipukul oleh temannya, dan Mika tidak membalas memukul karena menurutnya jika dia memukul kembali, temannya akan sakit, padahal dia juga sakit sudah dipukul haha.

Salah satu hal yang hampir tidak pernah Mika lakukan adalah memulai perlakuan tidak baik kepada temannya, misalnya dia tidak akan memukul temannya terlebih dahulu, biasanya dia akan balik memukul temannya jika temannya tidak bisa diberitahu atau dia merasa pukulan temannya sudah membuat dia sakit. Itu lah kenapa saya memasukkan dia di kegiatan bela diri seperti wushu hanya karena untuk pembelaan diri saja dan jaga diri, yang jelas bukan untuk berantem ya. Maklum lah kekhawatiran saya sebagai orangtua terhadap anak sendiri sudah pasti sangat besar yang saya sendiri sadari bahwa saya juga tidak bisa terus berada disamping anak-anak saya, ditambah lagi sekarang perilaku bully membully antar anak semakin banyak, jadi mana ada lah orangtua yang tidak khawatir, dan ini semua saya lakukan hanya untuk jaga-jaga saja. Semoga tidak akan ada kejadian-kejaidan yang tidak diharapkan.

Kembali kebagaimana Mika berteman membuat saya sendiri agak takjub, koq bisa ya Mika berteman tanpa harus memilih mana teman yang baik, yang nakal, yang kaya, yang rusuh dan yang lain.  Mika akan main dengan siapa saja bahkan dengan anak yang bisa di bilang baru dikenal olehnya. Ketika masa TK kemarin, Mika memang mempunyai teman dekat 2 orang sehingga sering dipanggil dengan sebutan trio kwek kwek. Namun menurut guru-gurunya saat itu, Mika tidak hanya berteman dan bermain dengan 2 orang teman dekatnya saja, dia juga bermain dan berteman dengan semua temannya yang ada di TK. Terkadang saya iseng bertanya: “Mika  di sekolah mainnya sama B dan M saja ya?”. Skeetika juga Mika langsung menjawab: “Enggak, aku main sama semuanya, sama anak laki-laki dan anak perempuan, main semuanya”. Lanjut saya bertanya: “ah masa sih main sama semuanya? ibu lihatnya Mika main sama B dan M saja”.  Saat itu juga Mika langsung menjawab dengan kesal: “AKU MAIN SAMA SEMUANYA!, TANYA AJA BU GURU”. Tulisan caps lock itu menandakan bahwa dia kesal ke saya karena tidak percaya bahwa dia bermain dengan semua temannya.

Sama halnya dengan di sekolah, pertemanan Mika di lingkungan rumah pun begitu, saya sering melihat Mika bermain dengan siapa saja anak seusianya, bahkan Mika juga tidak segan bermain dengan anak-anak kampung belakang rumah saya dan juga bermain dengan anak teteh (ART) yang bekerja di rumah saya. Karena tidak memilih ini terkadang Mika suka tidak mau jika ada salah satu temannya yang mengajak untuk tidak berteman dengan yang lain karena mungkin anak tersebut jahil. Biasanya sih mika tidak akan mau mengikuti ajakan temannya tersebut dan mashi bermain dengan anak yang dianggap jahil tersebut. Entahlah, mungkin kejahilan temannya itu masih wajar menurut mika sehingga tidak perlu untuk tidak ditemani.

Waktu itu sih saya biasa saja, karena ya saya berfikir namanya juga anak-anak pasti adalah hal-hal seperti itu, karena dulu ketika saya kecil pun pernah begitu, cari-cari temen dan jauh-jauhin teman, ya standar anak-anak bermain lah. Sampai saya sedikit kaget melihat reaksi Mika ketika saya menjemputnya di sekolah. Tampak sekali Mika sangat kesal dan marah dilihat dari mukanya yang kesal. Awalnya saya berfikir dia kesal dan marah karena saya agak telat menjemputnya, tetapi ternyata saya salah, ternyata Mika kesal dan marah kepada temannya. Saat itu saya bertanya:

Saya:   “Kenapa kak koq marah-marah?”
Mika:   “Atuh aku disuruh sama D untuk tidak main sama J. Si J kan ga nakal koq sama aku, kenapa harus ga boleh main sama J, aku kan ga mau, apalagi alasannya karena J sering pulang  telat, padahal D kan juga sering pulang telat karena nulisnya lama”.
Saya:  “Lalu kenapa Mika marah? D nya sudah diberitahu belum jika tidak baik begitu?”
Mika:  “Sudah, aku sudah kasih tahu D kalo ga boleh begitu, main ya sama semuanya, anaknya ga  jahil koq disuruh ga ditemanin”.
Saya:  “Tapi memang setahu ibu si J kan memang jahil kak, teman-teman yang lain sering dijahilin sama J, ya termasuk si D suka dijahilin sama J”.
Mika: “Ya kan tapi sama aku enggak, aku juga udah kasih tahu J kalo ga boleh jahil tapi kan bukan berarti ga di temenin, J baik koq sama aku. Kata bu guru juga ga boleh berantem, harus main sama-sama”.
Saya: “Ya bagus kalo kakak sudah kasih tahu, ya sudah kakak mainnya sama semuanya aja”.
Mika: “Ya aku memang main sama semuanya bu”.
Saya: “Okay!”

Saat itu sih saya antara ingin ketawa dan senang. Ingin ketawa karena anak-anak ini lucu ya bisa sampai segitunya, tapi iya sih ketika dulu saya kecil juga sebenernaya tidak jauh berbeda, ada saja kelompok atau perorangan yang mengajak kita tidak berteman dengan seseorang atau sekelompok. Senangnya ternyata Mika masih tidak berubah untuk tidak membeda-bedakan teman dan berteman dengan siapapun termasuk si J yang sering saya dengar bahwa J sering menjahili teman-temannya. Sebenarnya tidak hanya J saja, banyak juga anak yang lain seperti J cuman memang kadang orangtua suka agak drama ketika tahu anaknya di jahilin oleh teman-temannya. Jadilah aksi reaksinya lumayan rame dan bikin group whatsapp heboh. Disini saya melihat aksi reaksi ini agak berlebih sih, orangtuanya drama abis sampai ribut di group yang seharusnya bisa diselesaikan secara baik, nah mungkin hal ini juga yang mebuat anak-anak dengan mudahnya mengajak untuk tidak berteman dengan teman yang tidak disukainya. Yah kalo ada pepatah mengatakan buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, kiranya seperti itulah gambaran aksi reaksi anak dan orangtua yang ada haha. Bahkan saya sendiri sempat tidak nyaman dengan aksi reaksi tersebut.

Melihat itu saya sebagai orangtua belajar dari Mika bahwa sejelek apapun teman pasti ada sisi baiknya, tinggal bagaimana kita melihat dari sisi yang berbeda. Ketika kita melihat dari sisi yang berbeda tentu perasaan buruk akan tersingkir dengan perasaan yang baik. Ketika kita tulus berteman tanpa membedakan apapun, pertemanan akan semakin indah dan damai. Tetapi jika kita berteman dengan mengkotak-kotakkan, tentu saja hasilnya akan berbeda.

Harapan saya, semoga hal ini masih terus bisa dijaga Mika sampai dewasa nanti, karena biasanya ketika dewasa, manusia akan berubah sejalannya waktu dan keadaan. Berteman dengan siapa saja dengan cara yang baik, diharapkan bisa membuat ketentraman hidup sesama manusia. Good job nak, semoga kelak kau juga akan bisa menjalankan namanya toleransi, keberagaman, kebersamaan, menurunkan ego diri untuk menjadi diri yang lebih baik. Terimakasih juga sudah menjadi tempat belajarnya bapak dan ibu sebagai orang tua, doakan bapak dan ibu mu bisa terus mendidikmu menjadi anak yang baik dunia dan akhirat ya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked (*).

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  • Siapa hayoh?

    ga suka kekerasan, sebel bunyi klakson, suka renang, ga suka makan babat, suka banget pizza dan buah duku