Kenapa anaknya dimasukkin ke daycare?

Kenapa tidak menggunakan ART saja untuk menjaga anak?

Kenapa tidak menggunakan baby sitter saja yg lebih profesional?

Kenapa tidak titip saja ke orangtua?

Dan beribu pertanyaan lain yang muncul yang membuat kita terkadang lelah menjawabnya.

Sebagai orangtua tentu saja kita ingin memberikan yang terbaik bagi anak, apapun biasanya akan kita lakukan demi anak, termasuk salah satunya adalah memilih asisten yang membantu kita dalam menjaga anak ketika kita sedang bekerja atau melakukan sesuatu tanpa anak.

Zaman dahulu pilihan orangtua hanya kepada asisten rumahtangga, orangtua atau kerabat dekat dan baby sitter yang bisa kita dapat dari yayasan penyalur. Seiring perkembangan zaman akhirnya muncul Tempat Penitipan Anak atau lebih sering disebut daycare/childcare. Di kota-kota besar, daycare sudah banyak diminati. Banyak orangtua memilih daycare sebagai alternatif penitipan anak daripada ART (Asisten Rumah Tangga). Tetapi tidak jarang juga orangtua memilih daycare karena tidak mendapatkan jasa ART. Disini sebeenarnya tujuannya sedikit berbeda, dan ini juga yang menyebabkan masih banyaknya orangtua yang belum mengerti betul fungsi dan tugas daycare yang tidak begitu sama dengan tugas dan fungsi ART.

Kenapa saya bilang tidak sama? Karena memang tidak sama haha. Daycare biasanya memiliki sistem berbasis pendidikan dan pengasuhan, berbeda dengan ART yang hanya pengasuhan saja tanpa ada pendidikan. Selain itu di daycare anak akan bisa lebih mudah bersosialisasi dengan orang lain sehingga anak bisa lebih mandiri, kreatif dan tenggang rasa. Hal ini berbeda jika dirumah bersama ART, anak cenderung manja dan terbiasa dilayani. Dari sini jelas konsep, tugas dan fungsi daycare agak berbeda dengan ART, nah hal ini yang harus dipahami oleh orangtua yang hendak menitipkan anaknya ke daycare. Sebagai pemilik dan pengguna jasa salah satu daycare di Bogor yang cukup lama, saya sangat paham bahwa masih banyak orangtua yang beranggapan bahwa daycare sama dengan ART. Orangtua masih beranggapan bahwa tugas daycare sama dengan tugas ART di rumah.

Beberapa hambatan-hambatan yang saya temui ketika orangtua ingin menitipkan anaknya di daycare yang sebenarnya bisa juga terjadi di rumah bersama ART, antara lain:

  • Khawatir akan kesehatan anak → khawatir anak mudah tertular penyakit karena setiap hari berinteraksi dengan anak yang lain. Alasan ini wajar karen orangtua tidak ingin anak sakit, tetapi virus, bakteri dan kuman ada dimana-mana, sehingga dimanapun anak berada, tertular virus, bakteri dan kuman pasti ada.
  • Ketidaknyamanan dan kekhawatiran karena anak dititip dengan bukan keluarga sendiri. Siapapun pada awalnya, anak akan mengalami apa yang disebut “separation anxiety” kecemasan berpisah dengan orangtuanya. Tapi seiring dengan berjalan waktu, ketidaknyamanan anak ini sebenarnya yakinlah akan hilang. Persis seperti anak yang ditinggalkan bekerja pertama kali oleh orangtua yang nangis dan mungkin histeris. Tapi jika orangtua konsisten, nangis dan teriak anak ini tidaklah berlangsung seterusnya.
  • Masalah finansial. Menitipkan anak di daycare membutuhkan pengeluaran lebih dan ini akan menguras keuangan, tidak hemat, baik untuk tranpsortasi antar jemput maupun biaya daycare itu sendiri.
    • Alasan orangtua menitipkan anak adalah bekerja dan jika orangtua bekerja memang demi anak-anak, lalu mengapakah lagi kita masih berpikiran soal hemat? Uang yang dihasilkan adalah untuk anak , jadi wajar pula jika uang yang dihasilkan itu salah sebagiannya diinvestasikan untuk anak. Meski tetap harus dikelola porsinya.
    • Lakukan membuat tabel perencanaan perbandingan pengeluaran orangtua bila anak dititipkan di daycare dengan dititipkan dengan ART atau Baby sitter. Dari situ orangtua dapat melihat perbandingannya.

Karena hambatan dan ketakutan itu yang membuat orangtua masih maju mundur untuk menitipkan anak ke daycare. Saya sendiri ketika dulu masih bekerja dan pertama kali menitipkan anak ke daycare pun awalnya merasa tidak nyaman dibandingkan dengan menggunakan ART. Pernah saya berkata bahwa saya meninggalkan anak kepada orang yang tidak dikenal padahal saya lupa bahwa ART pun juga merupakan orang yang awalnya tidak saya kenal, jadi seharusnya itu bukan alasan saya tetapi hanya ketidakterbiasaan saya dengan perubahan baru yaitu daycare. Tetap setelah saya lihat, amati dan rasakan bahwa perkembangan anak saya jauh lebih baik dibandingkan ketika anak saya hanya dirumah saja dengan ART akhirnya saya lebih tenang menitipkan anak di daycare.

Lalu apa yang harus dilakukan orangtua ketika ingin menjadikan daycare menjadi salah satu pilihan yang kita gunakan?. Berikut ini beberapa hal yang harus dilakukan orangtua ketika memilih daycare, antara lain:

  • Pilihlah daycare yang sesuai dengan yang orangtua inginkan atau butuhkan. Karena sesungguhnya memilih daycare tidak jauh berbeda dengan memilih sekolah.
  • Pilihlah daycare yang memiliki konsep yang sangat jelas. Sekarang ini hampir semua daycare memiliki konsep pendidikan di dalamnya. Ini yang menyebabkan bedanya daycare dengan ART. Nah, pilih konsep pendidikan yang sesuai dan diinginkan oleh orangtua.
  • Lakukan trial atau hari percobaan terlebih dahulu. Saya mewajibkan orangtua yang hendak menitipkan anak ke daycare saya untuk trial terlebih dahulu dan harus ditemani oleh orangtua. Trial ini saya fungsikan agar orangtua dapat melihat keseharian anak-anak, pola pengasuhan dan pendidikan yang terdapat di daycare. Sehingga orangtu dari awal sudah dapat menilai dan memilih apakah  sesuai dengan yang diinginkan oleh orangtua.
  • Hal yang terpenting adalah orangtua harus memahami dan sabar menghadapi masa adaptasi anak. Setiap anak memiliki masa adaptasi yang berbeda, tidak bisa disamakan dengan anak yang lain. Ada anak yang cepat adaptasi tetapi tidak jarang juga yang cukup memakan waktu lama dalam adaptasi. Tetapi yang harus diyakini bahwa anak akan belajar adaptasi dengan sendirinya, beri kepercayaan terhadap anak dan daycare untuk bisa menghadapi masa ini. Saya sering mengatakan kepada orangtua bahwa orangtua yang harus lebih banyak sabar untuk mengahdapi masa ini dan menerimanya.
  • Percayakan anak kepada daycare selama orangtua bekerja. Karena jika tidak percaya yang akan timbul adalah rasa resah orangtua yang dapat dirasakan oleh anak, sehingga anak menjadi semakin tidak nyaman ketika berada di daycare. Saya sangat percaya jika orangtua memikirkan anak akan berasa pada anak dan biasanya terjadi demikian.
  • Biasakan ketika mengantar atau menjemput anak untuk berbincang dengan pengasuh di daycare mengenai perkembangan anak atau apa yang terjadi hari itu. Jika sudah terdapat laporan perkembangan anak setiap harinya, tidak ada salahnya untuk berbicara dengan para pengasuh.
  • Pengasuh di daycare bukan Pembantu. Ini selalu saya wanti-wanti kepada orangtua yang menitipkan anak di daycare. Mereka adalah pendidik dan pengasuh anak-anak, yang mengajarkan banyak hal juga kepada anak-anak. Baik dan buruknya anak di daycare tergantung kepada mereka. Jadi hormatilah mereka layaknya guru di sekolah. Karenanya saya sangat bahagia jika ada orangtua yang menyempatkan waktu sebentar untuk berdiskusi dengan pengasuh mengenai anak agar tercipta pola asuh yang sama dan sesuai antar orangtua dan daycare.
  • Jangan pernah meragukan kemampuan anak dalam beradaptasi di lingkungan baru karena sesungguhnya anak akan lebih mudah beradaptasi jika orangtua percaya akan kemampuannya. Sebagai orangtua tentunya kita ingin anak cepat beradaptasi di lingkungan baru/daycare, sehingga ketika kita tinggal anak sudah tidak menangis lagi dan semua berjalan dengan mulus. Tetapi biasanya dan hampir semuanya jika anak ditinggal orangtua akan menangis tetapi ketika dia tahu orangtuanya sudah pergi untuk bekerja dan mereka bersama-sama dengan teman-temannya, anak akan mulai berhenti menangis dan bermain.

Nah apapun pilihan orangtua tentu saja kembali kepada kebutuhan dan kenyamanan masing-masing keluarga. Saya yakin semua orangtua telah memikirkan baik dan buruknya, pilihan kembali ke masing-masing keluarga. Dengan memahami pilihan yang akan kita pilih tentunya akan mempermudah kita juga dalam menjalaninya tanpa ada rasa takut, khawatir berlebih atau baper yang tak terkesudahan hehe. Semoga bermanfaat!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked (*).

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  • Siapa hayoh?

    ga suka kekerasan, sebel bunyi klakson, suka renang, ga suka makan babat, suka banget pizza dan buah duku