Apakah saya ibu yang egois?

Apakah saya ibu yang egois? Saya pun tak tau jawabannya, apakah ini termasuk egois atau pembelaan diri atau sebuah kesalahan? Tapi kl boleh saya menjawab, saya akan menjawab bahwa ini adalah suatu pembelajaran yang sangat berarti buat saya. Tapi jika ada yg tidak dapat sependapat dengan saya, mohon maaf, setiap orang punya pendapat masing-masing, please jangan hujat saya tapi beri saya support untuk bisa lebih baik lagi.

Sebenarnya sudah lama saya ingin berbagi cerita dan pengalaman tentang ini tapi saya ragu, apakah saya nantinya tidak akan di hujat? Tidak akan disalahkan? Apakah semua orang dapat menerima cerita saya? Saya tidak yakin dan membuat saya untuk mengurungkan niat. Tetapi sekarang saya mencoba untuk membagi cerita ini dan perasaan ini dan berharap kedepan saya bisa menjadi ibu yang lebih baik lagi bagi anak-anak saya.

Apakah saya ibu yang egois karena tifak bisa memberikan ASIX kepada anak saya mika? Mungkin jawabannya iya atau tidak, silahkan menilai sendiri. Saya hanya bisa memberikan ASI kepada mika selama 3 bulan, selebihnya? Ya mika minum sufor! Kenapa? Karena ketika 3 bulan, ASI saya habis, dari awal melahirkan sampai habis, ASI saya memang tidak pernah banyak, di pompa saja paling banyak hanya 40ml. Tapi saya tidak tinggal diam, saya mencoba untuk berusahabmeningkatkan kualitas ASI saya, makan sayuran, berfikir positif, rajin memerah, minum vitamin dan sebagainya, tapi ya hasilnya paling mentok 40ml. Oh ya, padahal mika lahir premature, yang notabene sangat perlu ASI untuk pertumbuhannya. Sampai-sampai ASI saya ketika di perah tidak sampai 5ml dan mika pun tidak merasa kenyang, dia nangis kejer karena ASI saya sedikit, padahal mika sangat kuat menyusunya jika langsung di payudara saya. Dan pada akhirnya, ASI saya tidak keluar sama sekali, baik di perah pakai tangan maupun pakai alat dan mika semakin rewel karena tidak bisa mendapatkan ASI yanh memadai untuknya. Kalo sudah seperti ini apa yg saya lakukan? Saya masih amat awam mengerti tentang ASI, donor ASI dan kaitan lain tentang ASI. Saat itu yg saya fikirkan adalah mika dapat minum yg kenyang dan BB nya tidak turun, maklum punya anak premature tidaklah gampang, saya waktu itu takut jika saya memaksakan diri untuk tidak memberikan mika alternatif lain selain ASI, mika akan sakit, BB tidak naik, dan ketakutan-ketakutan lain. Bayangkan saja, umur 3 bulan berat badannya saja baru 3kg, sedangkan kalo bayi normal 3kg itu waktu oertama lahir. Yang terus ada di fikiran saya adalah jangan sampai mika kembali ke rumah sakit karena keteledoran ataupun ke egoisan saya, karena dari itu saya akhirnya memilih sufor sebagai penggantinya.

Apakah setelah saya memberikan mika sufor saya senang? Jawabannya sudah pasti TIDAK! Saya amatlah sedih, nangis terus dan terus meminta maaf kepada mika setiap malam dan meminta maaf kepada suami bahwa saya tidak bisa menyusui mika dan kami harus mengeluarkan budget ekstra untuk sufor. Setiap hari saya diluputi rasa bersalah dan selalu menangis, dan merasa menjadi seorang ibu yg egois dan tidak baik. Belum lagi saya mendapatkan respon-respon yang tidak menyenangkan untuk didengar ataupun diterima. Respon- respon itu membuat saya semakin terpuruk dan ingin meledak. Saya pun sampai sekarang masih suka iri melihat teman-teman yang bisa memberukan ASIX kepada buah hatinya. Apalagi sekarang zaman social network, begitu banyak yang menceritakan keberhasilan mereka memberikan ASIX. Sayapun sangat senang mendengarnya walaupun terkadang rasa iri itu ada.

Oh ya, Beginilah kira-kira tanggapan orang-orang ketika mereka tau saya sudah tidak memberikan ASI kepada Mika:
1. Ohh udah ga ASI lagi? Knp? Males nyusuin anak ya? —> rasanya koq pengen marah ya? Masa saya dibilang males nyusuin anak?
2. ASI kan bagus, bikin daya tahan tubuh anak kuat, jadi jarang sakit, kalo pake sufor sakit mulu, tuh liat anak si A dikasih sufor jadi sakit mulu. —> ya sekali lagi saya hanya bisa nelen ludah dan senyum kecut. Alhamdulillah mika jarang sakit
3. Pengen gampang ya ga ribet nyusuin kalo lagi jalan? —> ini bikin emosi jiwa! Siapa jg yg pgn kayak gt?
4. Kalo ga nyusuin langsung nanti anaknya ga deket sama ibu nya lhoo. —> huaaa koq malah ditakut2in gini? Alhamduliilah mika deket sama saya
5. Ihhh koq ga ASI sih? –> kl dah gini bingung jawabnya gmn, dan belom tentu mereka nerima omongan saya
6. Ihh sufor kan mahal, ga takut bangkrut? —> saya cuman bisa nyengir aja.
7. Kayak anak sapi aja dikasihnya susu sapi —> saat itu rasanya pengen nabok tapi saya cuman nyengir kuda
8. Tatapan-tatapan yang ga menyenangkan ke saya pas tau saya ngasih sufor.

Jujur, saya amat sedih dengan semua tanggapan tersebut dan membuat saya semakin terpuruk dan bersalah yang amat sangat. Saya sangat mendukung ASiX kepada semua orang, termasuk saudara dan sahabat2 saya, saya tidak pernah menyarankan mereka untuk memberikan sufor kepada anak mereka selama mereka mampu dan bisa memberika ASI. Saya disini tidak membela sufor, malah kadang geram melihat iklan di tivi tentang sufor yang menurut saya terlalu dibuat-buat dan begitu gigihnya mereka (produsen sufor) memberikan sajian yang menarik di tv agar para ibu tergoda, jujur saya geram karena terlalu dibuat-buat. Pemberian sufor untuk mika pun saya tidak melihat merek, nutrisi dan kandungannya. Bagi saya semua sufor ya isinya sama, mau ada plus ini atau plus itu buat saya ya tetep aja susu sapi. Saya pun memilih sufor yang tidak mahal, bisa dibilang murah karena ya balik lagi tetep aja susu sapi. Tumbuh kembang anak kan ga berdasarkan susu apa yg dia minum, jadi buat apa beli yg mahal dan plus plus.

Sampai pada akhirnya, suami memberikan kekuatan kepada saya, dia mengatakan kepada saya, jika saya terus menyalahkan diri saya, malah tidak ada baiknya dan manfaatnya untuk saya dan mika. Karena saya terus menyalahkan diri sendiri bisa-bisa membuat fokus saya kepada mika berkurang. Suami saya pun bilang, lebih baik sekarang kamu fikirkan hal lain yang lebih bermanfaat untuk kebutuhan dan perkembangan mika kedepan. Dari situ saya mencoba untuk bangkit, mencoba menyingkirkan rasa bersalah saya dan mulai mengasah ilmu lebih dalam lagi tentang tumbuh kembang anak, kesehatan, kebersihan dan hal-hal lain tentang anak. Saya mencoba untuk memulai dengan menjaga segala nutrisi yang masuk ke tubuh mika setelah dia MPASi, saya membuat sendiri makannya mika, cari tau apa yg boleh dan tidak boleh diberikan, menjaga kebersihan sebersih mungkin agar mika tidak gampang sakit, memberikan perhatian full ketika saya dirumah, tidak pernah telat melakukan imunisasi dan hal-hal lain yg saya lakukan untuk mika. Alhamdulillah mika bisa mengejar ketinggalannya sebagai anak premature seperti layaknya anak yang terlahir normal, semua tumbuh kembangnya normal dan pesat. Hal ini yang membuat saya untuk terus berusaha memberikan hal lain yang bisa saya berikan.

Menjadi seorang ibu memang tidak mudah, tetapi saya yakin setiap ibu termasuk saya sendiri pasti ingin melakukan yang terbaik bagi anaknya, walaupun harus mengorbankan nyawanya sekalipun. Apa yg menurut kita terbaik buat anak tetapi bisa saja menjadi hal yang tidak baik bagi anak ketika anak kita sudah besar nanti. Yang saya takutkan saat ini adalah apakah saya bisa menjadi orangtua yang bisa mendidik anaknya dengan baik? Ini suatu tantangan dan juga PR yang berat buat saya, saya yakin setiap orangtua akan memberikan yang terbaik.

Dari sinilah saya belajar banyak, ini merupakan pelajaran berharga bagi saya. Semoga ketika mika punya adik, saya bisa memberikan adiknya mika ASIX, Amin ya Allah. Jika suatu saat nanti ketika mika sudah besar dan dia tau saya tidak bisa memberikan dia haknya yaitu ASI, saya siap menerima kemarahannya, saya ikhlas jika itu bisa membayar rasa bersalah saya, tapi sya yakin, dengan kasih sayang saya kepada mika yang full, mika akan mengerti nantinya, Amin.

Jadi, apakah saya ibu yang egois? Apabila iya, please jangan hujat saya. Bantu saya ya……

Ps: saya mohon maaf jika ada kata-kata saya yang tidak sesuai. Niat saya hanya ingin berbagi, semoga dimengerti.

Mika = Malaikat kecil ibu dieta

Membesarkan anak dan menjadi orang tua yang sesuai dengan keinginan setiap anak sangatlah sulit. Setiap orang tua mempunyai kriteria sendiri dalam mendidik anak, begitu juga anak, mereka sebenarnya memiliki kriteria sendiri dalam hati orang tua yang idel seperti apa yang mereka inginkan. Karena itulah, saya sebagai orang tua khususnya sebagai ibu mencoba untuk menjadi seorang ibu yang bisa memenuhi semua kriteria tersebut, walaupun samapai saat ini saya pun belum tahu kriteria apa yang di inginkan anak saya. Saya sebagai ibu sangat bangga dan bersyukur mempunyai anugrah yang luar biasa dari Tuhan, yaitu seorang anak laki-laki yang lucu dan pintar bernama Mikail Shira Aydin Hadi yang biasa dipanggil Mika. Mika terlahir premature dengan berat badan 1,9 kg, walaupun terlahir premature, Alhamdulillah perkembangan motorik dan sensorik nya Mika seperti layaknya anak yang terlahir normal. Mika sudah bisa melakukan apapun sesuai dengan umurnya, 3 bulan sudah tengkurap, 6 bulan sudah merangkak dan 12 bulan sudah bisa berjalan, puji syukur kepada Tuhan.  Banyak sekali moment-moment perkembangan Mika yang membuat saya takjub dan tak berhenti bersyukur bahwa anak premature ini bisa mengejar ketinggalannya dengan luar biasa.

Mika sangat senang dengan bola, air, hewan terutama kucing dan piano/organ. Setiap melihat bola pasti akan dia ambil dan lempar atau dia tendang, oh ya Mika agak kidal, jadi kalo nendang bola dia selalu menggunakan kaki kiri. Dulu tendangannya dan lemparannya belum kuat tapi sekarang di umurnya 19 bulan, tendangannya sudah semakin ok, terkadang saya tak luput kena tendangan bolanya. Mika juga sangat antusias bila melihat hewan terutama kucing, jika dia melihat kucing, kucing itu akan terus dia uber sampai kemanapun. Mika sangat berani dengan kucing, dia sama sekali tidak takut di gigit ataupun di cakar oleh kucing, adanya dia tertawa terbahak-bahak, berfikir bahwa kucing tersebut bercanda dengan dia. Ada juga kucing yang tak luput dari tendangan dan pukulan Mika, dia benar-benar antusias terhadap yang namanya kucing!.

Selain Bola dan kucing, Mika sangat antusias dengan musik, mungkin karena dari saya hamil selalu tidak lepas mendengarkan musik. Setiap ada musik/lagu apapun, dia akan berjoget sambil menggoyangkan tangannya, bahkan suara lagu tukang roti yang lewat depan rumah saja dia akan berjoget. Karena senangnya dengan musik, Mika sangat senang dengan organ. Dia akan meminta organ untuk dinyalakan, dan dia mulai memainkan organ tersebut sambil berjoget menggoyangkan seluruh tubuhnya ke kiri dan kanan, begitu menyenangkan melihatnya.  Oh ya, Mika juga senang dengan air, karena dari umur 6 bulan sudah saya ajak mika berenang dan di rumah pun saya berikan dia kolam-kolaman air untuk dia bermain air.  Pertamanya saya bawa ke kolam renang, dia kaget dengan air dingin, tapi tak lama dimasukin ke kolam, dia mulai enjoy dan betah lama-lama di kolam. Di rumah pun dia hobi bermain air di kolam-kolamannya atau di teras rumah menggunakan selang sambil tertawa terbahak-bahak karena senangnya, saya pun ikut senang melihat Mika tertawa senang.

Sekarang Mika sudah 19 bulan, dia semakin besar dan semakin mulai banyak mengerti dan juga manja, terutama kepada saya. Dia sudah mulai paham ibu, bapak dan mbak pengasuh. Mika anak yg baik jika saya tinggal kerja, dia akan menjadi anak yang mudah diatur dan nurut sama mbak pengasuhnya jika saya tidak ada, tetapi jika saya ada, dia akan mulai bermanja dengan saya, apa-apa maunya dengan saya. Saya tidak mengeluh bahkan senang, ternyata Mika bisa menjadi anak yang baik, walaupun ada saya dia manja, tapi saya berfikir itu adalah hal yang wajar, sikap yang wajar seorang anak kepada ibunya, apalagi saya adalah ibu yang bekerja, tentu waktu saya dengan Mika banyak tersita dengan pekerjaan. Saya bangga menjadi Ibu dan saya bersyukur kepada Tuhan telah menitipkan malaikat kecil kepada saya. Saya yakin, Mika akan tumbuh sebagaimana layaknya anak-anak dengan kasih sayang dan cinta saya kepadanya. Ibu sayang Mika, tetaplah terus menjadi malaikat kecil bagi ibu.

Akhirnya menyerah

Akhirnya menyerah!

Ya, setelah 2 hari tubuh ini ga bisa mengkonsumsi makanan apapun termasuk obat, akhirnya tubuh ini menyerah juga dengan dokter, rumah sakit dan infus. Begini kronologisnya:

Jumat malam pulang kerja, 24 September tubuh ini sudah merasakan gejala yang amat tidak mengenakkan, badan mulai meriang, flue serta kepala pusing. Walhasil sampai rumah langsung menenggak obat flue lalu tidur. Keesokan harinya, Sabtu 25 September, keadaan bukan semakin membaik malahan semakin parah, padahal niatnya hari ini mau belanja bulanan karena besok suami harus dinas ke Padang. Belanja bulanan ga jadi, yang jadi akhirnya saya dan suami ke rumah sakit, karena tubuh ini semakin menggila sakitnya. Datang ke Rs. Azra sabtu sore langsung ke IGD, diperiksa sama dokter, ditanya ini itu dan akhirnya ambil darah dan tes urine untuk memastikan sakit apa sih saya ini?

Hasil lab keluar 1 jam kemudian, dari hasil tersebut untuk tes darah tidak ada masalah apapun, tetapi di urine, dari hasil pemeriksaaan bahwa urine saya ada kandungan darahnya sedikit, dokter memprediksi ISK (Infeksi Saluran Kemih) dan Maag. Akhirnya kami kembali pulang dengan obat demam, obat ISK dan obat Maag. Oh ya, saya bener-bener tidak bisa masuk makanan dan perut sakit melilit serta pipis pun sakit, hiks, makanya dokter IGD memprediksi seperti itu.

Sampai keesokan harinya, Minggu 26 September sakit tersebut tak kunjung hilang, bagaimana mau hilang? makanan dan obat pun tak ada yang bisa masuk ke dalam tubuh ini, semua berhasil keluar lagi. Karena tidak ada makanan dan obat yang masuk, tubuh ini pun semakin lemas dan sakit, beruntung sekali saya punya suami yang pengertian dan perhatian serta sabar menghadapi kebawelan saya yang selalu bilang: “sakit pak, ga enak badannya pak, pusing pak” dan akhirnya mewek, hehehe. Oh ya, pak suami ini sampai membatalkan dines kantornya ke Padang karena tak tega melihat saya kesakitan, hohoho Thanks ya Pak!

Senin pagi, 27 September pak suami akhirnya membawa saya lagi ke rs. Azra dan menuju lagi ke IGD, beruntung dokter jaganya sama waktu saya datang sabtu sore kemarin, jadi beliau sudah tau penyebabnya. Akhirnya karena saya tidak bisa makan dan obat yg diberikan pun tidak bisa di minum, beliau memutuskan untuk saya di rawat inap dan di oper ke dokter spesialis penyakit dalam. Fuih…akhirnya saya menyerah, menyerah karena saya memang merasakan sakit seluruh badan, saya memang lemah kalo sudah namanya sakit. Oh ya, pak suami sempet ngeledekin saya: “wah ibu hebat, 2 hari ga makan, padahal biasanya selalu bilang laper melulu” huhuhu sial!. Beruntung ke rumah sakitnya pagi-pagi, jadi masih bisa ketemu dokter penyakit dalamnya, dan langsung saya dihujani oleh suntikan-suntikan, suntikan infus, suntikan buat ambil darah, dsb. Dalam hati, kalo darah gw diambil terus bisa kurus ga ya? hahahaha mana bisa begitu *toyordirisendiri*

Setelah pemeriksaan sana sini, hasilnya adalah maag akut dan ISK. Dokternya sampai bingung, koq ibu bisa ngedrop banget kayak gini? kenapa bu? dan saya bilang: kerja dok, capek. eh si dokter malah bilang: lah kan kerjanya dah lama, masa capeknya baru sekarang? dan saya pun bingung *tuing tuing tuing*, emangnya kalo dah lama kerja, ga boleh capek ya?. Akhirnya seminggu ceria lah saya di rumah sakit, sungguh tersiksa. Tersiksa karena cuman bisa ketemu Mika sebentar pas waktu jam jenguk, tersiksa karena infusan di tangan, sampai pindah tangan juga tuh infusan karena bengkak, tersiksa karena pake infus membuat saya beser, pipis terus dan tersiksa melihat suami yang nungguin saya di rumah sakit ikut-ikutan sakit, hiks.

Alhamdulillah, sekarang sudah mulai kerja lagi, sejak 3 minggu absen dari kantor karena sakit. Pesen dokter sih ga boleh kecapean, tapi mana mungkin? pasti capek lah, secara tiap hari ngantor pp bogor-jakarta-bogor, sampe rumah pun harus mengurus anak, masak dan lain-lain. Tapi saya akan mencoba menjalaninya dengan semangat dan senyum yang cemerlang (loh dah kayak iklan pasta gigi aja)

  • Siapa hayoh?

    ga suka kekerasan, sebel bunyi klakson, suka renang, ga suka makan babat, suka banget pizza dan buah duku