(6)+2 tahun bersamamu

(6)+2 tahun bersamamu…yay bersamamu! (agehadi)

berawal dari (6) tahun kami berpacaran dan 2 tahun kami menikah, ketika dijumlahkan ternyata kami sudah 8 tahun bersama (lama juga ya?). bisa dibilang pernikahan kami memang masih sangat muda, baru 2 tahun tepatnya 8 juni kemarin, tetapi perkenalan kami yang amat lumayan lama, (6) tahun kami bisa dibilang mencoba saling mengenal, mengenal sisi masing-masing, mengenal berbagai macam keegoisan yang kami punya, mengenal berbagai macam keromantisan yang kami punya dan mengenal dan terus mengenal sisi dalam dan luar kami.

(6) tahun berpacaran bukan hal yg mudah bagi kami menjalaninya, 2 tahun menikah pun juga bukan hal yang mudah, semua ada lika likunya. tidak mudah bagi kami melewatinya: amarah, cemburu, egois, canda tawa, romansa dsb dsb dsb yang tidak bisa dijelaskan satu persatu.

lucu rasanya mengingat kembali masa-masa dulu, 8 tahun yang lalu ketikapertama kali kami bertemu sampai saat kami menikah dan sampai saat ini kami pun mempunyai titipan Tuhan yang sangat lucu dan menggemaskan, dia adalah malaikat kecil kami : Mikail Shira Aydin Hadi (13 bulan). Membayangkan kembali masa pertama sampai kami memiliki malaikat kecil sangat indah, terkadang kami tertawa bila mengingat kejadia-kejadian yang pernah kami alami. Hufh itulah hidup, siapa yang mengira kalau pendamping hidup saya dalah dia (agehadi).

Sempat saya bilang ke suami: pak, kalo aku ga masuk IPB, pasti aku ga bakalan ketemu kamu dan kita ga bakalan pacaran dan menikah sampe punya anak kayak gini. tapi apa kata suami: bu, kalo namanya jodoh mah, kamu ga masuk IPB pun kalo emang kita udah jodoh pasti bakal diketemuin sama Tuhan, di angkot misalnya atau di mall, mana k
ita tahu?. Yap bener juga ya? ga ada yang tahu memang rencana Tuhan.

Terimakasih AgeHadi, dirimu memang suami dan bapak yang keren buat ku dan Mika. Yeay! Semoga Tuhan bisa memberikan waktu yang lama untuk kita bisa bersama, AMin!

Antara Mudah dan Sulit Memaafkan dan Meminta Maaf

ini dimulai dari perbincangan diriku dengan suami, yang menggaris bawahi: Sebenernya meminta maaf  itu gampang lho? tapi kenapa masih banyak orang yang ego untuk meminta maaf dan bahkan sulit untuk memaafkan orang lain. Masih banyak orang atau bahkan diri kita sendiri tidak menyadari bahwa nikmat banget kalo bisa meminta maaf dengan tahu bahwa kita memang salah dan mau memaafkan (Tuhan aja mau memaafkan, kenapa kita tidak).

Sebenernya bermulanya dari sini:

Suatu hari di pagi hari (halah lebay banget yak?), daku dan suami hendak pergi ke suatu tempat tepatnya ke bengkel gitar, karena kami tidak tahu tempatnya, akhirnya kami janjian dengan seorang teman. Di jalan, suamiku menepi dan mencoba menelpon teman untuk menanyakan keberadaannya. setelah tahu beliau dimana, suamiku mematikan telpon dan langsung mengambil arah ke kanan untuk belok/putar arah, tetapi ternyata dengan tiba-tiba ada sebuah motor muncul dari sebelah kanan, suamiku tidak melihatnya, jadilah insiden kecil disitu. suami ku turun, membantu sang pengendara motor (nih orang ga jatuh, cuman pundaknya kena stang motornya), menanyakan keadaannya, meminta maaf dan mengajak menepi. Setelah menepi, suamiku kembali menanyakan keadaannya dan berulang kali meminta maaf karena dia sadar dia salah, karena tidak melihat pengendara motor tersebut. Karena ketulusan suami meminta maaf, sang pengendara motor pun juga tidak marah-marah (karena pasti biasanya kalo keserempet pasti marah-marah). setelah negoisasi masalah ganti rugi dan kembali meminta maaf, so masalah selesai. Sampai masuk mobil, suamiku meminta maaf kepadaku: maaf ya bu, aku salah, bener-bener ga melihat orang itu. Aku bilang: Ya tak apa, tapi sudah minta maaf sama orangnya kan?. Suamiku bilang: Ya sudah dari awal tadi. Syukurlah. Dan sambil jalan, suamiku bilang, ternyata meminta maaf itu mudah dan nikmat ya. kenapa juga masih ada orang yang senengnya ribut dan angkuh untuk meminta maaf?

Lalu tak lama dari kejadian tadi, beberapa hari berikutnya, terjadi lagi suatu insiden yang saya pikir ini juga karena ego untuk tidak memaafkan dan meminta maaf, tapi kali ini tidak terjadi pada diri saya ataupun suami tetepai terjadi pada orang lain. begini ceritanya:

Suatu hari di malam hari, kami berniat untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga di Giant, setelah comot sana comot sini kebutuhan yang kami butuhkan, tibalah kami di kasir untuk membayar. ketika kami sedang mengantri di kasir, tiba-tiba kami mendengar suara teriakan seperti suara orang teriak marah-marah di kasir bagian sebelah kiri yang jaraknya lumayan agak jauh dari kasir yang kami tempati. Refleks, saya mengintip ke kasir tersebut, ternyata sedang ada keributan antara 2 orang ibu-ibu. pada saat ini saya tidak tahu penyebabnya apa. salah satu diantaranya sebut saja A dan B, si A akhirnya dibawa menjauh oleh suaminya, si B pun dibawa menjauh pula, cuman karena masih pada emosi, akhirnya si B pun ngomel-ngomel sambil teriak-terika hendak mendekati si A. dan si B pun terus teriak, saya melihat tubuh si B penuh cakaran merah-merah, hahaha ada-ada saja saya pikir. sampai keluar giant, masalah tersebut tidak kunjung reda, malah semakin menjadi, dan hampir seluruh pengunjung mall (Giant ini terletak di mall) melihat dan mengikuti mereka. Si A sudah diam saja mendengar si B mengomel, cuman karena si B terus mengomel akhirnya si A memukul lagi si B, Oh God, kapan selesai nya ini? telisik demi telisik, sebenernya permasalahannya sepele, si A tak sengaja menyenggol si B, tetapi si B tidak terima, dan dua-duanya sama-sama merasa benar dan tak mau memaafkan ataupun meminta maaf, jadilah perang yang amat seru terjadi. Hanya karena tidak ada yang mau meminta maaf dan memaafkan, akhirnya jadi suatu bumerang buat mereka. Malu dilihat oleh seluruh pengunjung mall, mungkin kalo saya jadi mereka, saya ga bakal ke mall itu lagi. tetapi semoga tidak akan seperti mereka.

Pelajaran yang saya dapat dari 2 kasus diatas: memaafkan dan tidak memaafkan atau meminta maaf atau tidak meminta maaf itu timbul dari diri kita, seberapa besar ego kita dalam mengambil keputusan untuk meminta maaf  atau memaafkan. Terkadang kita sangat angkuh untuk meminta maaf, apalagi kalo kita merasa kita benar. terkadang walaupun kita merasa benar, tak ada salahnya dan baiknya untuk kita meminta maaf juga. sepertinya hidup akan lebih damai apabila itu terjadi.

Oh ya, pernah suatu saat saya meminta maaf kepada ART (Asistem rumah tangga) saya karena sesuatu hal. saat itu saya sampai nangis meminta maaf nya karena saya tidak ingin dia tidak memaafkan saya, walaupun saya sadar dan tahu apa yang saya lakukan untuk dia adalah benar dan tidak salah, tapi saya pada saat itu saya hanya berfikir bahwa ART saya tidak mengerti apa yang saya lakukan adalah untuk membuat dia lebih baik, tetapi yang saya dapat adalah dia marah kepada saya dengan apa yang saya lakukan ke dia. Seharusnya saya dong yang marah? karena dia tidak mengikuti apa yg saya katakan padahal dia saya bayar? Tapi kenyataannya yang saya lakukan adalah coba mengerti keadaaanya dan meminta maaf kepadanya. Setelah itu saya amat lega, dia mau memaafkan saya. begitu nyamannya bisa meminta maaf dan dimaafkan.

Bukan maksud hati untuk menyombongkan diri, tetapi hanya ingin berbagi tentang makna maaf buat kita semua. Semoga saya tetap terus bisa menjadi orang yang pemaaf dan tidak angkuh untuk meminta maaf, baik salah maupun tidak salah, demi kebaikan semuanya.

Sekali lagi, maafkan saya bila tulisan saya tidak berkenan.

  • Siapa hayoh?

    ga suka kekerasan, sebel bunyi klakson, suka renang, ga suka makan babat, suka banget pizza dan buah duku