Ujian dari Mika

Senang rasanya melihat Mika tumbuh sehat dan pintar, Alhamdulillah Mika memiliki tumbuh kembang yang baik, semua terlaksana sesuai dengan usianya. Melihat Mika sehat merupakan hal yang paling senang, tetapi ketika Mika sakit, diriku pun sakit (walaupun Mika jarang sekali sakit). Anak sakit adalah ujian bagi semua orangtua, bagaimana orangtua bisa mengatasi segala kepanikan ketika anak sakit dan tetap menjaganya agar anak tetap nyaman. Menurutku ini adalah ujian yang paling berat dibandingkan ujian skrpisi.

Ujian itu akhirnya datang lagi ke kami (saya dan suami) untuk ke-2 kalinya. Pertama kali ketika Mika berumur 6 bulan, Mika mengalami demam yang disertai batuk dan flu yang menyebabkan dia sulit bernafas alias sesak.  Panik? Pasti karena ini merupakan pertama kalinya, tapi untung saya memiliki suami yang sangat tidak gampang panik, jadi semuanya bisa difikirkan secara rasional. Dan beruntung pula saya memiliki dokter anak yang rasional dan bisa di telpon atau di sms 24 jam. Menyenangkan sekali!

Akhirnya datang ujian Ke-2 tepatnya baru seminggu yang lalu. Hari Minggu sore, Mika masih seperti biasanya, main dan main cuman memang koq agak sedikit rewel, tetapi saya berfikir mungkin itu hanya kemanjaan dia saja. Sempat pula saya melihat bintil-bintil merah di lengan tangannya dan saya pun berasumsi itu adalah biang keringat, secara Mika sangat aktif dan selalu berkeringat. Malam pun tiba, suhu tubuhnya mulai memanas, tapi saya belum memberikan parasetamol, karena masih hangat. Saya coba tidurkan dan akhirnya tertidur juga. Tengah malam say terbangun karena Mika bangun dan saya mendapatkan suhu tubuh Mika yang semakin memanas, tapi pada saat itu Mika sama sekali tidak rewel, dia hanya terlihat lemas. Langsung saya mengambil alat ukur dan sampailah panasnya Mika di 39,3 derajat celcius. Saya mencoba memberikan parasetamol agar Mika terasa nyaman. Padahal pada saat itu saya pun sedang sakit, jadi saya berfikir mungkin Mika flu karena ketularan saya.

Senin Pagi, Mika masih demam tinggi, tetapi ketika dikasih parasetamol suhu tubuhnya turun, tetapi 3 jam kemudian tinggi lagi. Dan bintil-bintil merahnya pun semakin banyak. anaknya pun semakin rewl. Makanan pun ditolak, susu juga ditolak, yang Mika mau hanya air putih. Semakin sore bintil merah semakin banyak, bintil merah itu menimbulkan gelembung air, persis seperti cacar. saya curiga apakah ini cacar atau flu singapur. saya langsung mencoba menghubungi teman saya yang pada 2 minggu sebelumnya, anaknya mengalami flu singapur yang gejalanya hampir sama seperti cacar dan hampir sama seperti mika. Temen saya bilang bedanya cacar sama flu singapur adalah, kalo cacar tidak ada bintil merah di telapak tangan dan kaki serta mulut. Fuih…makin yakin aja nih ini flu singapur. Rencana ke dokter sore itu jg ku tunda, karena saya dan suami tidak pernah anak sakit langsung bawa ke dokter, biasanya kami observasi dulu, minimal 2 hari.

Akhirnya setelah 2 hari, tepatnya hari selasa, berangkatlah kami ke dokter. kenapa ke dokter? karena Mika semakin rewel dan panasnya tak kunjung turun dan bintil merahnya semakin banyak. rewel karena mungkin badannya ga enak, Mika hanya mau digendong oleh saya, sama bapaknya pun dia tidak mau. Saya duduk saja dia langsung nangis menejrit kencang dan susah untuk diberhentikan. Mika hanya ingin dia nyaman dan tak terganggu oleh apapun. Alhasil, saya hanya bisa senderan di tembok sambil menggendong Mika agar saya tidak capek. Hufh betul-betul ujian.

Sampai di dokter, dokter pun langsung melihat dan benar dugan saya, FLU SINGAPUR atau nama lain dari HFMD (Hand Foot Mouth Disease). Karena memang tidak ada obatnya, dokter hanya memberikan obat tets di mulut karena mulutnya penuh dengan putih-putih, salep buat bintil-bintilnya.

Hah ada-ada saja, ke singapur pun tidak tapi kena flu nya, hahaha. untungnya memang kami sudah mencari tahu terlebih dahulu tentang flu singapur di dunia maya, jadi memang apa yg dibilang dokter, ciri-cirinya sama seperti yang dunia maya katakan. Cuman memang virus ini cepat sekali menular kepada anak-anak dari 0-10 tahun. Virus ini menyebar lewat udara, jadi memang ketika anak sudah terkena virus ini, tidak dianjurkan untuk keluar rumah karena bisa menularkan dengan yang lain. Penyakit ini lagi banyak dan mewabah, di komplek saya pun sudah ada beberapa anak yang terkena, di komplek temen saya juga banyak yg terkena virus ini.

So…ini ujian saya dari Mika. Karena ujian inilah akhirnya saya tidak bekerja selama seminggu yang bisa membuat absensi saya semakin buruk, dan hanya bisa berharap bos saya akan mengerti keadaan saya, karena memang saya sering absen karena saya juga sering sakit (nanti akan saya ceritakan tentang sakit saya di judul yg lai. jadilah hal ini membuat absensi saya buruk di Kantor. Apapun itu, yang jelas Anak adalah nomor satu buat saya, Semoga itu juga berlaku buat ibu-ibu yang lain yang terutama bekerja.

Akhirnya…terimkasih sayang, kau membuat ibu semakin sayang padamu.

Ini gambar bintilnya mika:

  • Siapa hayoh?

    ga suka kekerasan, sebel bunyi klakson, suka renang, ga suka makan babat, suka banget pizza dan buah duku